Minggu, 05 Agustus 2018

Ibu Rumah Tangga

Banyak kontroversi yaaa..mana yg lebih baik antara ibu yang bekerja di ranah publik atau bekerja di rumah. Semua sama baiknya yaaa..saya buat tulisan ini untuk menyemangati diri saya sendiri bukan untuk nyinyir atau apapun.

Saya apoteker, sebelum menikah saya bekerja di ranah publik,  1,5 tahun bekerja kemudian resign dan mengikuti suami. Setelah itu Allah memberikan amanah kepada kami, saya hamil dan suami meminta saya untuk menunda mencari pekerjaan.

Sampai akhirnya suami meminta saya untuk fokus di rumah saja dengan calon  buah hati, biar urusan nafkah urusan suami. Begitu kata beliau. Tanpa perdebatan langsung saya iyakan. Waktu itu suami memberikan penjelasan yang bagus sehingga saya pun luluh. Hehe..

Alhamdulillah, meskipun dulu orangtua saya dan mertua meminta saya untuk tetap bekerja, sampai sekarang mereka tidak pernah mempermasalahkannya.

Ketika keluarga tidak ada yang mempermasalahkannya, justru orang lain lah yang ribut. Ada yang bilang, wah sayang ya ijazahnya, sayang ya ilmunya, kalau udah kelamaan momong nanti males kerja lho.. dll..

Baiklah..bagi saya dan suami.. keberadaan seorang istri di rumah itu juga bekerja. Memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyetrika, mengasuh anak, dll itu bekerja. Bayangkan jika saya bekerja, ada sebagian pekerjaan yang pasti akan disubkontrakkan ke orang lain. Mengasuh Qiyya pun pasti tidak bisa seperti sekarang. Masalah anak ini yang paling memberatkan saya untuk tetap si rumah. Kami merasa man eman jika Qiyya dititipkan orang lain ketika saya bekerja. Saya pun berpikir, apakah jika saya bekerja, perkembangan Qiyya bisa secepat ini?

Keuntungan lain saya bekerja di rumah adalah saya punya banyak waktu untuk suami dan Qiyya. Kapan pun suami butuh saya meskipun cuma minta ditemani ke atm saya bisa. Saya dan suami tipe orang yang males kemana-mana sendiri. Bahkan pernah, suami mau potong rambut pun minta ditemani. Hehehe..

Masalah rejeki kami pasrah sama Allah. Hitungan manusia, jika suami istri bekerja pasti pendapatan keluarga akan lebih banyak daripada suami. Tetapi tidak dengan hitungan Allah. Alhamdulillah kami cukup sampai saat ini. Kalo dihitung-hitung pendapatan keluarga sekarang dibanding ketika saat saya masih bekerja lebih banyak sekarang. Alhamdulillah.. Tidak perlu khawatir soal rejeki, insyaAllah sudah ada jatahnya..selagi istri patuh pada suami dan suami ridho pada istri insyaAllah Allah pun ridho kepada mereka.. Begitulah logika sederhana kami..

Oiya..ada satu lagi keuntungan saya bekerja di rumah. Saya bebas mudik kapanpun..hahaha.. Maklum..Qiyya adalah cucu pertama dari dua keluarga, jadi akung utinya masih ingin dekat dengan cucu satu-satunya, intensitas mudik kami pun tinggi. Tangerang-Magelang-Kediri sudah seperti Jogja, Magelang, Solo..hahaa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar