Senin, 19 Agustus 2019

Review Materi 9 "Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual"

Semakin hari diskusi semakin menarik. Setelah PG 8 kemarin diskusinya ciamik, sekarang PG 9 pun tak kalah keren.  Sayangnya hari itu bertepatan dengan perayaan 17 Agustus di kampung jadi absen tidak ikut diskusi. Diskusi diawali dengan curah pendapat dengan mengisi google form. Di awal diskusi juga disebutkan akan ada 3 sertifikat yang dibagikan oleh PG 9 untuk peserta yang berpartisipasi mengisi curah pendapat. Seru ya!

Berikut review singkat dari materi kelompok 9:

Peran Lingkungan
Peran lingkungan meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, serta pemerintah. Semua aspek ini memegang peranan penting dalam mencegah serta melindungi adanya tindak kejahatan seksual. Banyak yang menilai peran pemerintah masih belum terlihat, meskipun subenarnya sudah ada peran pemerintah. Dapat dilihat UU no 23 tahun 2002 pasal 81. Dalam hal lain, dapat kita lihat masih adanya tayangan tidak berkualitas di televisi, kemudian belum ada tindak tegas untuk pelaku LGBT. Meski begitu, peran keluarga sangat-sangat diharapkan karena perlindungan kecil itu berawal dari sebuah keluarga. Satu langkah dari tiap-tiap keluarga di Indonesia untuk melindungi anak dari kejahatan seksual akan sangat berarti daripada tidak melakukan apa-apa.

Apa yang bisa dilakukan terhadap kejahatan seksual?
Sebelum terjadi kejahatan seksual, tentu kita dapat melakukan pencegahan. Peran dari keluarga, masyarakat, maupun pemerintah sangat dibutuhkan disini. Semua pertahanan yang ditanamkan kepada anak tercipta dari sebuah lingkungan kecil yang bernama keluarga. Itulah pentingnya penanaman nilai-nilai yang baik dari keluarga.

Saat terjadi kejahatan seksual, ada baiknya keluarga tidak panik dan fokus pada penyelesaian. Dekap anak agar ia mendapatkan ketenangan dan kenyamanan. Bila kita menjumpai adanya kejahatan ketika berada di masyarakat, harus berani melaporkan kepada pihak yang berwajib. Dari sisi negara, harus mengawal upaya memerangi kejahatan seksual.

Setelah terjadi kejahatan seksual, yang bisa dilakukan keluarga adalah melakukan rehabilitasi psikis serta medis. Sedangkan peran masyarakat adalah rehabilitasi sosial, dan peran pemerintah adalah rehabilitasi hukum.

Minggu, 18 Agustus 2019

Suka Duka Penghuni "Barbel"

Apa yang kamu pikirkan ketika pertama kali mendengar kata barbel?
Alat olahraga?
Bukaaan..
Barbel itu sebenarnya adalah singkatan dari barisan belakang. Hari ini aku teringat kata ini setelah melihat upacara di televisi, mengingatkan masa-masa SMA 13 tahun yang lalu. Masa-masa dimana baris berbaris adalah makanan sehari-hari.

Istilah barbel ini pertama kali dilontarkan oleh teman sekamarku. Ya, sekolah saya dulu ini adalah sekolah asrama. Saya lupa tepatnya oleh siapa tapi kata itu tiba-tiba terlontar saat kami mengobrol santai. Kata ini 'tercipta' karena sebagian dari kami adalah penghuni 'barbel'.

Dulu waktu SD-SMP urutan berbaris adalah yang pendek di depan dan yang tinggi di belakang. Namun, ternyata yang benar adalah dari depan ke belakang adalah dari yang paling tinggi ke paling pendek. Sebenarnya kami tidak sependek yang kalian kira, tapi karena teman-teman kami banyak yang tinggi banyak jadi yaaa begitulah.

Sebagian orang mungkin mencibir kami-kami yang ada di barbel. Dilihat orang pun juga tidak. Di mana-mana yang terlihat adalah yang paling depan. Tapiiiii..jangan salah ya, ada kalanya tempat kami ini menjadi tempat impian bagi para mereka yang berbadan tinggi. Senangnya ada di barbel itu:
1. Terhindar dari sengatan matahari. Kami selalu terlindung oleh mereka yang berbadan lebih tinggi. Apalagi ketika matahari berada tepat di depan barisan kami. Topi pun tak sanggup melindungi sengatannya. Pada saat ini barbel adalah posisi yang diimpikan sebagian besar siswa. Pernah suatu hari, aku berada di barisan nomer dua dari depan gara-gara banyak teman yang lebih tinggi memilih barbel. Hmmmm, jadi gini rasanya baris di barisan depan, panaaas guys.
2. Barbel itu jauh dari pengawasan senior. Kalau di depan, bergerak saat upacara tentu langsung ketahuan. Di barbel masih sedikit lebih santai, meskipun sebenarnya tetap ketahuan sih kalau bergerak heboh.

Tapi, gara-gara di barbel, aku menyadari bahwa impianku menjadi paskibraka sirna. Aku harus tahu diri biar tidak dikira pungguk merindukan bulan. Dulu sekali aku pernah bermimpi menjadi salah satu pasukan pengibar bendera di istana negara. Geli ya kalau ingat itu sekarang. Kalau kata Bang Haji sih, "Masa muda masa yang berapi-api". Kira-kira seperti itu gambaran masa mudaku dulu. Rasanya banyak ya yang bermimpi seperti itu, gimana tidak upacara 17 Agustus di istana itu adalah tontonan wajib setiap tahun, dari kecil sampai punya anak. Wajar kalau banyak yang bermimpi menjadi paskibra. Mimpi itu terus aku pupuk sampai masuk SMA ini, SMA yang baris-berbaris adalah makanan setiap hari. Namun setelah menjadi penghuni barbel aku harus tahu sampai dimana kemampuanku. Berada di barbel membuatku mawas diri, bahwa tidak menjadi paskibraka pun aku tetap bisa berkontribusi bagi negeri. Cie cieee.

Satu lagi yang membuat barbel membosankan adalah kita tidak tahu bagaimana pemandangan di depan. Apakah ada suatu kejadian yang menarik? Atau seseorang yang menarik? eh eh gak boleh ya. Menentukan ke mana barisan melangkah pun tidak bisa, kita hanya bisa mengekor orang-orang di depan. Belok kanan ya kanan, kiri ya kiri. Untungnya jalannya cuma itu-itu saja sih jadi tidak terlalu masalah.

Barbel ini menjadi salah satu topik pembicaraan yang seru saat bertemu mantan penghuni barbel. Sampai saat ini kalau bertemu kita cuma tertawa. Menertawakan diri kami sendiri yang sok asik dan sok bangga karena pernah menjadi penghuni barbel. Padahal itu adalah cara kami menghibur diri karena berada di barisan belakang.

Review Materi 8 "Penyimpangan Seksualitas, Pencegahan, dan Solusinya"

Presentasi kelompok 8 ini menurut saya adalah presentasi paling beda. Di samping ada video animasi singkat sebagai teaser materi juga mekanisme presentasi dibuat berbeda. Di mana 7 kelompok di awal semua materi diberikan di awal lalu membahas pertanyaan dari teman-teman. Kelompok ini melakukan diskusi interaktif. Jadi pertanyaan diberikan saat sesi diskusi dan materi diberikan di akhir presentasi. Ide yang cemerlang menurut saya.

Diskusi berjalan sangat seru, bahkan diskusi belum mulai pun obrolan tentang materi ini sudah ramai. Mungkin total ada 500 obrolan.  Diskusi dimulai dengan membahas apa itu pengertian penyimpangan seksualitas. Penyimpangan seksualitas adalah penyimpangan seksual/ fantasi seksual yang tidak wajar terhadap benda, situasi, atau kelompok individu tertentu.

Dilanjutkan tentang bentuk-bentuk penyimpangan sosial. Dulu saya hanya tahu beberapa, seperti gay dan lesbian. Ternyata ada banyak lho bentuk penyimpangan seksual itu seperti:
1. Fedofilia (tertarik pada anak di bawah umur)
2. Geronontofilia (tertarik pada usia lanjut)
3. Infantofilia (tertarik pada bayi)
4. Zoofilia (tertarik pada binatang)
5. Froteurisme (Pengidap menggesek-gesekan kelaminnya di tempat umum)
6. Eksibisionisme (suka memperlihatkan alat kelaminnya)
7. Voyeurisme (suka mengintip misal di kamar ganti atau toilet)
8. Fetisisme (tertarik pada suatu benda seperti pakaian dalam)
9. Sadisme (suka menyiksa/menyakiti pasangan saat berhubungan seksual untuk kepuasan)
10. Masokis (merasa puas apabila dia disakiti oleh pasangan)

Adapun berbagai penyebab yang dibahas selama diskusi antara lain:
1. Iman dan takwa yang lemah (ada orang yang rajin beribadah hanya secara ritual saja, tetapi tidak meresapinya)
2. Trauma sewaktu kecil. Entah ia pernah mendapat pelecehan seksual ataupun melihat salah satu orang tuanya melakukan kekerasan seksual.
3. Pola asuh waktu kecil yang kurang tepat. Sewaktu diskusi kami disuguhkan suatu video yang berisi anak umur 8 tahun sudah mengalami disorientasi seksual. Bahkan hal tersebut didukung oleh orangtuanya karena anaknya terlihat bahagia. Naudzubillah.
4. Pengaruh lingkungan. Lingkungan ini tak bisa dipungkiri bisa menjadi penyebab penyimpangan seksualitas. Sekeras apapu kita mengikat anak kita pasti akan terpapar oleh lingkungan. Untuk itu kita harus membuat benteng yang kuat untuk anak kita, salah satunya dengan pemahaman agama.
5. Penggunaan media yang kurang tepat. Seperti yang dibahas pada diskusi kelompok selanjutnya media bisa menjadi sangat berpengaruh.
6. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh (faktor ini sangatlah kecil)

Pencegahan yang bisa dilakukan kita antara lain:
1. Kedekatan orangtua dengan anak
2. Pemahaman agama kepada anak. Tidak hanya menjalani ibadah ritual saja, tetapi harus dipahamkan kepada anak apa esensi dari beribadah.
3. Menjaga pergaulan anak. Berusaha memberikan lingkungan yang baik kepada anak.
4. Penggunaan gadget secara bijak. Orangtua bisa berperan dalam penggunaan gadget oleh anak.
5. Diadakan seminar, kajian LGBT di sekolah-sekolah
6. Adanya undang-undang yang melarang LGBT di Indonesia. Selain peran orangtua, pemerintah juga sangat berperan dalam kasus ini.
7. Jika anak mengalami pelecehan seksual, upayakan untuk mendapat penanganan dengan tepat. Kenapa? karena pelaku LGBT adalah korban pelecehan seksual yang tidak tertangani dengan baik dan tumbuh sebagai pelaku.

Satu lagi yang menjadi pembahasan, yaitu solusi. Solusi yang paling penting menurut saya adalah dari tataran keluarga. Dimulai dari membangun kedekatan orangtua dan anak. Selanjutnya ayah dan ibu melakukan peran seperti fitrahnya masing-masing, seperti yang sudah dibahas pada diskusi sebelumnya. Peran ayah dan ibu ini sangat penting salah satunya memberikan pendidikan agama kepada anak. Karena susungguhnya pendidikan agama anak ini adalah tanggung jawab orang tua. Bukan tanggung jawab pihak kedua seperti sekolah ataupun pengasuh.

Setelah dipaparkan semuanya baik kasus, materi, pencegahan, solusi, semakin membuat saya sadar bahwa ini adalah sebuah 'perang'. Kita, para orang tua dituntut untuk menyiapkan anak kita agar bisa berperang melawan LGBT di zamannya kelak. Zaman sekarang saja sungguh sangat ngeri, apalagi zaman anak kita kelak. Siapkan amunisi berupa pendidikan agama dan jangan lupa selalu berdoa kepada Allah karena sebaik-baik penjaga adalah Allah.

Jumat, 16 Agustus 2019

Lomba Anak vs Ambisi Orang Tua

Pada bulan Agustus seperti sekarang ini bisa dipastikan hampir semua kampung mengadakan lomba khususnya lomba anak-anak. Mulai dari lomba yang sejak jaman saya kecil ada sampai lomba-lomba jaman now yang kreatif. Mulai dari makan kerupuk, pecah air, kupas telur puyuh, eatafet air dan masih banyak lainnya.

Maraknya lomba ini kadang diiringi oleh keinginan orang tua agar anaknya eksis alias menang di banyak lomba. Sah-sah saja memang, tapi kemarin saya tersentil story instagram senior saya. Kurang lebih intinya begini, "Lomba anak-anak? Kalau menang bagus. Tapi, coba tanya dulu anaknya, apakah dia happy?"Bener juga sih apa yang dia bilang. Apa tujuan dari lomba anak diadakan? Hadiah itu bonus, tapi anak bahagia itu yang paling penting.

Hari ini di kampung ada lomba anak-anak. Saya mencoba mengerem mulut, tangan, kaki, semuanya. Saya tidak pasang target. Anak mau ikut lomba saja saya sudah senang. Qiy masih dua tahun, belum perlu rasanya diajak berkompetisi. Saya kira dikenalkan dulu dengan keberanian. Berani ikut lomba saja sudah bagus.

Sebelum lomba tanya dulu sama Qiy, "Qiy mau ikut lomba hias sepeda?" Karena anaknya mau, saya bantu hias sepedanya. Paginya dia semangat sekali ikut pawai sepeda. Sampai sepedanya tidak boleh dipegang anak yang lain, takut rusak..hehe. Lomba hias sepeda aman, selanjutnya dia mau ikut lomba membawa kelereng dengan sendok. Ini agak susah untuk anak dua tahun. Tapi Qiy keren karena mau mencoba. Lalu lomba makan kerupuk, dia paling senang lomba ini karena favoritnya adalah kerupuk. Meski dengan bantuan tangan, Qiy cukup cepat menghabiskan kerupuknya. Itu saja lomba yang dia mau ikuti, lainnya tidak mau, lebih tepatnya dia malah asyik makan jajanan dari panitia.

Setelah lomba saya tanya, "Qiy senang?" Dia bilang, "Senang." Alhamdulillah. Qiy belum mengerti konsep juara dan kompetisi. Jadi buat apa saya teriak-teriak menyuruh Qiy makan kerupuk cepat-cepat? Saya hanya akan lelah berteriak dan Qiy jadi tantrum. Mungkin juga kalo Qiy besar dia akan bilang, "Ibuk aja yang ikut lomba biar menang".

Bagi saya sederhana saja, pastikan saja anak kita senang dan bahagia mengikuti rangkaian lomba. Tanamkan keberanian melalui lomba tersebut. Juga ajarkan anak agar mempunyai semangat dan pantang menyerah dalam melakukan sesuatu. Kalau menang, itu karena kerja kerasnya. Jangan lupa  berikan apresiasi. Kalau kalah, jangan pernah menghardiknya. Jiwa anak-anak itu lembut, sayang sekali hanya karena hadiah tak seberapa jiwa anak terluka. Biarkan ia belajar tentang kompetisi dengan caranya. Bukan dengan terus berada di sisinya saat lomba dan berteriak, "Ayoo, yg cepet..kamu harus menang!"

Jadi, sudahkah anak kita senang dengan lomba yang dia ikuti kemarin?

Sepeda hias Qiy

Kamis, 15 Agustus 2019

Review Materi 7 "Menjaga Diri dari Kejahatan Seksual"

Diskusi hari ini adalah diskusi paling panas selama 7 hari ini. Bagaimana tidak, semua kasus kejahatan seksual dipaparkan. Percaya atau tidak, kejadian itu kerap terjadi di sekitar kita, bahkan oleh orang-orang terdekat korban. Sebagai ibu dan seorang wanita, rasanya kesal, marah, jengkel, ah semua pokoknya saat membaca berita yang dipaparkan kelompok 7 tadi tentang kejahatan seksual. Kejahatan seksual ini tidak hanya melalui sentuhan, tetapi juga ada yang melalui telepon, pesan, dan lain-lain. Korban pun beragam, dari mulai usia dewasa sampai anak balita pun bisa menjadi korban.

Sebagai orang tua yang bisa kita lakukan adalah membekali anak kita dengan pengetahuan apa yang orang lain boleh lakukan dan tidak boleh lakukan terhadap kita. Apa yang seharusnya anak lakukan jika menghadapi situasi tersebut. Jagalah komunikasi yang baik dengan anak, karena anak yang terbuka akan menceritakan apapun yang dia alami kepada kita. Terakhir, jangan lupa  doakan selalu anak kita. Karena sebaik-baik penjaga adalah Allah Swt.

Rabu, 14 Agustus 2019

Review Materi 6 "Pengaruh Media terhadap Fitrah Seksualitas"

Sejauh mana kaitan media dan fitrah seksualitas? Dari paparan kelompok 6 kemarin, media dan fitrah seksualitas itu sangat berkaitan. Media berperan penting dalam perkembangan fitrah anak. Di satu sisi kita sangat terbantu dengan adanya media untuk berkomunikasi. Adanya telepon, video call, WA, sangat berguna bagi para keluarga yang menjalani Long Distance Marriage (LDM). Tapi, media ini bisa seperti pedang bermata dua. Bagi orang-orang yang tidak bijak memanfaatkannya media akan menjerusmuskan ke lubang gelap. Seperti kasus yang dicontohkan oleh kelompok kemarin. Ada siswa-siswi SD yang beramai-ramai membuat video berkonten pornografi. Di era sekarang, semua dapat diakses melalui handphone (HP). Naudzubillah..

Zaman orangtua kita dulu sebenarnya pun ada kasus seperti hamil di luar nikah. Walaupun zaman dahulu perkembangan media tidak semaju sekarang. Kenapa hal itu bisa terjadi? Perkembangan teknologi memang menjadi salah penyebab, namun yang lebih utama adalah bagaimana para penggunanya memanfaatkan. Kita tidak bisa mengelak dari perkembangan teknologi yang begitu cepat. Tapi kita bisa membentengi kita dan anak-anak kita dengan iman dan tuntaskan perkembangan fitrahnya.

Dari diskusi kemarin banyak juga dibahas mengenai penggunaan gadget pada anak. Saya dulu menentang penggunaan gadget pada anak. Tapi, semakin anak besar, ia semakin penasaran kenapa orangtuanya selalu memegang yang namanya gadget. Akhirnya sekali dua kali diberikan. Namun, saya menyadari efek yang ditimbulkan meskipun saya hanya memberikan maksimal 2 jam per hari. Anak jadi lebih sering tantrum dan lebih sering teriak-teriak. Keputusan untuk tidak memberikan gadget ini tidak bisa saya lakukan sendiri. Kedua orangtua harus terlibat semuanya. Orangtua harus rela puasa gadget demi anak agar tidak melihat orangtuanya main gadget. Selain itu anak harus disibukkan dengan diajak bermain, bernyanyi, dan membaca buku. Kuncinya ada pada orangtuanya.

Memberikan gadget pada usia yang tepat tentu juga akan membantu kita melindungi si anak sendiri. Tentu tidak bijak memberikan anak gadget dengan fasilitas internet kepada anak usia 7 tahun tanpa pengawasan. Kalau saya sendiri  lebih setuju kepada memberikan gadget ketika anak sudah mengerti batasan-batasan apa yang boleh dia lakulan dan tidak lakukan. Tetap saja saya harus mengecek historinya juga isi sosial medianya.

Membaca maraknya kasus pornografi usia dini dari kelompok 6 kemarin membuat saya sadar kita sebagai orangtua harus banyak-banyak belajar serta berusaha lebih untuk memberikan amunisi-amunisi terbaik kepada anak untuk berjuang di zamannya. Bismillah..

Selasa, 13 Agustus 2019

Review Materi 5 "Pentingnya Aqil Baligh Secara Bersamaan"

Seperti hari-hari kemarin, diskusi kelima ini pun berlangsung sangat seru. Ada kurang lebih 300 obrolan yang harus dibaca ketka tertinggal diskusi. Tapi, hal itu tak menyurutkan niat untuk terus manjat ke atas membaca diskusi sampai selesai. Gimana ya maaak, isinya sungguh sangat berbobot.

Pernah mendengar ada kasus hamil diluar nikah? aborsi? pacaran? Pasti pernah kan... Itulah sederetan contoh kasus aqil baligh yang tidak matang secara bersamaan.

Jadi, apa itu aqil baligh?
Singkatnya baligh adalah tercapainya kedewasaan secara biologis, ditandai dengan matangnya organ reproduksi. Ciri yang paling terlihat adalah mulainya menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Sedangkan aqil adalah tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, dan finansial. Aqil baligh secara bersamaan berarti matangnya fisik dan mental secara bersamaan.

Mengapa anak harus dipersiapkan aqil baligh?

Sudah jelas jawabannya, agar tidak terjadi kasus seperti yang saya sebutkan di atas. Selain itu aqil baligh adalah syarat dalam ibadah dan muamalah. Setelah orang aqil baligh maka ia harus bertanggung jawab atas amal perbuatannya. Ia berhak mendapat pahala atau dosa.

Siapa yang bertanggung jawab mendidik anak agar tercapai aqil baligh bersamaan?

Orang tua baik ayah maupun ibu sangat berperan dalam mendidik anaknya agar tercapai aqil baligh bersamaan, terutama ayah. Ayah-lah yang paling bertanggung jawab mengantarkan kedewasaan anak (aqilnya).

Pendidikan untuk mempersiapkan aqil baligh ini tidak bisa semuanya diserahkan kepada pihak sekolah. Kenapa? Karena tidak semua sekolah memiliki visi misi untuk mengedepankan aqil. Masih banyak sekolah yang hanya fokus kepada nilai akademis semata. Meskipun ada sekolah yang mendidik kepribadian/kedewasaan tetap saja nilai-nilai itu harus dipenuhi di rumah. Kenapa? agar ketika anak menuntut ilmu di luar ia sudah aqil, sudah punya benteng yang kuat agar tidak terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik.