Tampilkan postingan dengan label kuliah bunda sayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah bunda sayang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2019

Aliran Rasa "Membangkitkan Fitrah Seksual Pada Anak"

Bagi saya, ini adalah tantangan paling seru selama kelas bunda sayang. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari grup dipenuhi ratusan chat. Kalo telat 3 hari saja sudah ribuan chat.

Menurut saya, kenapa grup bisa seramai itu karena tema yang menarik dan metode pembelajaran yang berbeda. Dalam level ini kami diminta untuk berdiskusi dan mempresentasikan apa yang didiskusikan kepada grup lain.

Tiap kelompok menyuguhkan presentasi terbaiknya. Kelompok awal pun, walaupun terbatas waktu persiapannya dapat memberikan yang terbaik. Semakin hari presentasi semakin baik. Ada yang membuat video juga. Walaupun sudah jadi ibu-ibu tetap harus kreatif ya :)

Berkat diskusi di level ini, saya semakin aware dengan fakta-fakta betapa 'mengerikan' dunia zaman sekarang. Sungguh berat tantangan membesarkan anak di zaman ini. Banyak bahaya mengancam, salah satunya dari bahaya kejahatan seksual serta penyimpangan seksual. Para orang tua termasuk saya, harus mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan ini di zamannya. Untuk itu, belajar adalah hal yang wajib dilakukan. Selain itu berdoa kepada Allah, karena Allah adalah sebaik baik penjaga.

Senin, 19 Agustus 2019

Review Materi 10 "FAQ Anak Seputar Pendidikan Seks"

Alhamdulillah sampai juga di materi terakhir. Lumayan juga setiap hari membaca 300 obrolan. Materi dan penyajian materi bagus-bagus semuanya sehingga sayang untuk dilewatkan. Materi kali ini menarik, karena sangat dekat sekali dengan kita. Pasti banyak orangtua yang bingung ketika anaknya tiba-tiba bertanya tentang seks. Peran keluarga sangat penting disini, lebih baik anak tahu penjelasan mengenai seks dari orangtuanya langsung daripada anak mencari tahu sendiri atau tahu dari sumber yang salah. Maka, jika anak mulai bertanya, hadapi ya jangan menghindar. Saya sendiri harus bersiap-siap ketika nanti Qiy mulai bertanya, beruntung sekali saya ikut komunitas ini. Alhamdulillah.

Penyampaian materi kelompok 10 ini keren sekali. Diawali dengan video teaser yang bercerita seorang anak yang mulai bertanya tentang anatomi tubuhnya yang berbeda. Lalu ada pertanyaan lain yang berkaitan dengan pendidikan seks.

Isi dari materi sangat lengkap. Ada tips untuk orangtua saat menghadapi anak. Ada alasan kenapa kita harus terbuka dalam menghadapi anak yang penasaran terhadap seks. Serta contoh-contoh pertanyaan si kecil seputar seks beserta jawabannya.

Qiy sudah 2 tahun. Idealnya di usia 3-4 tahun anak sudah mulai penasaran dengan kelamin. Qiy pun sama. Awalnya ia membuat istilah sendiri. Kemaluan = ik ok. Saya juga tidak tahu kenapa dia menciptakan istilah itu. Mungkin dari kata eek. Semakin kesini saya membiasakan dengan menyebut kemaluan. Materi ini sangat membantu saya mempersiapkan pertanyaan Qiy selanjutnya.

Berikut link materi dari kelompok 10, semoga bermanfaat :)

Review Materi 9 "Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual"

Semakin hari diskusi semakin menarik. Setelah PG 8 kemarin diskusinya ciamik, sekarang PG 9 pun tak kalah keren.  Sayangnya hari itu bertepatan dengan perayaan 17 Agustus di kampung jadi absen tidak ikut diskusi. Diskusi diawali dengan curah pendapat dengan mengisi google form. Di awal diskusi juga disebutkan akan ada 3 sertifikat yang dibagikan oleh PG 9 untuk peserta yang berpartisipasi mengisi curah pendapat. Seru ya!

Berikut review singkat dari materi kelompok 9:

Peran Lingkungan
Peran lingkungan meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, serta pemerintah. Semua aspek ini memegang peranan penting dalam mencegah serta melindungi adanya tindak kejahatan seksual. Banyak yang menilai peran pemerintah masih belum terlihat, meskipun subenarnya sudah ada peran pemerintah. Dapat dilihat UU no 23 tahun 2002 pasal 81. Dalam hal lain, dapat kita lihat masih adanya tayangan tidak berkualitas di televisi, kemudian belum ada tindak tegas untuk pelaku LGBT. Meski begitu, peran keluarga sangat-sangat diharapkan karena perlindungan kecil itu berawal dari sebuah keluarga. Satu langkah dari tiap-tiap keluarga di Indonesia untuk melindungi anak dari kejahatan seksual akan sangat berarti daripada tidak melakukan apa-apa.

Apa yang bisa dilakukan terhadap kejahatan seksual?
Sebelum terjadi kejahatan seksual, tentu kita dapat melakukan pencegahan. Peran dari keluarga, masyarakat, maupun pemerintah sangat dibutuhkan disini. Semua pertahanan yang ditanamkan kepada anak tercipta dari sebuah lingkungan kecil yang bernama keluarga. Itulah pentingnya penanaman nilai-nilai yang baik dari keluarga.

Saat terjadi kejahatan seksual, ada baiknya keluarga tidak panik dan fokus pada penyelesaian. Dekap anak agar ia mendapatkan ketenangan dan kenyamanan. Bila kita menjumpai adanya kejahatan ketika berada di masyarakat, harus berani melaporkan kepada pihak yang berwajib. Dari sisi negara, harus mengawal upaya memerangi kejahatan seksual.

Setelah terjadi kejahatan seksual, yang bisa dilakukan keluarga adalah melakukan rehabilitasi psikis serta medis. Sedangkan peran masyarakat adalah rehabilitasi sosial, dan peran pemerintah adalah rehabilitasi hukum.

Minggu, 18 Agustus 2019

Review Materi 8 "Penyimpangan Seksualitas, Pencegahan, dan Solusinya"

Presentasi kelompok 8 ini menurut saya adalah presentasi paling beda. Di samping ada video animasi singkat sebagai teaser materi juga mekanisme presentasi dibuat berbeda. Di mana 7 kelompok di awal semua materi diberikan di awal lalu membahas pertanyaan dari teman-teman. Kelompok ini melakukan diskusi interaktif. Jadi pertanyaan diberikan saat sesi diskusi dan materi diberikan di akhir presentasi. Ide yang cemerlang menurut saya.

Diskusi berjalan sangat seru, bahkan diskusi belum mulai pun obrolan tentang materi ini sudah ramai. Mungkin total ada 500 obrolan.  Diskusi dimulai dengan membahas apa itu pengertian penyimpangan seksualitas. Penyimpangan seksualitas adalah penyimpangan seksual/ fantasi seksual yang tidak wajar terhadap benda, situasi, atau kelompok individu tertentu.

Dilanjutkan tentang bentuk-bentuk penyimpangan sosial. Dulu saya hanya tahu beberapa, seperti gay dan lesbian. Ternyata ada banyak lho bentuk penyimpangan seksual itu seperti:
1. Fedofilia (tertarik pada anak di bawah umur)
2. Geronontofilia (tertarik pada usia lanjut)
3. Infantofilia (tertarik pada bayi)
4. Zoofilia (tertarik pada binatang)
5. Froteurisme (Pengidap menggesek-gesekan kelaminnya di tempat umum)
6. Eksibisionisme (suka memperlihatkan alat kelaminnya)
7. Voyeurisme (suka mengintip misal di kamar ganti atau toilet)
8. Fetisisme (tertarik pada suatu benda seperti pakaian dalam)
9. Sadisme (suka menyiksa/menyakiti pasangan saat berhubungan seksual untuk kepuasan)
10. Masokis (merasa puas apabila dia disakiti oleh pasangan)

Adapun berbagai penyebab yang dibahas selama diskusi antara lain:
1. Iman dan takwa yang lemah (ada orang yang rajin beribadah hanya secara ritual saja, tetapi tidak meresapinya)
2. Trauma sewaktu kecil. Entah ia pernah mendapat pelecehan seksual ataupun melihat salah satu orang tuanya melakukan kekerasan seksual.
3. Pola asuh waktu kecil yang kurang tepat. Sewaktu diskusi kami disuguhkan suatu video yang berisi anak umur 8 tahun sudah mengalami disorientasi seksual. Bahkan hal tersebut didukung oleh orangtuanya karena anaknya terlihat bahagia. Naudzubillah.
4. Pengaruh lingkungan. Lingkungan ini tak bisa dipungkiri bisa menjadi penyebab penyimpangan seksualitas. Sekeras apapu kita mengikat anak kita pasti akan terpapar oleh lingkungan. Untuk itu kita harus membuat benteng yang kuat untuk anak kita, salah satunya dengan pemahaman agama.
5. Penggunaan media yang kurang tepat. Seperti yang dibahas pada diskusi kelompok selanjutnya media bisa menjadi sangat berpengaruh.
6. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh (faktor ini sangatlah kecil)

Pencegahan yang bisa dilakukan kita antara lain:
1. Kedekatan orangtua dengan anak
2. Pemahaman agama kepada anak. Tidak hanya menjalani ibadah ritual saja, tetapi harus dipahamkan kepada anak apa esensi dari beribadah.
3. Menjaga pergaulan anak. Berusaha memberikan lingkungan yang baik kepada anak.
4. Penggunaan gadget secara bijak. Orangtua bisa berperan dalam penggunaan gadget oleh anak.
5. Diadakan seminar, kajian LGBT di sekolah-sekolah
6. Adanya undang-undang yang melarang LGBT di Indonesia. Selain peran orangtua, pemerintah juga sangat berperan dalam kasus ini.
7. Jika anak mengalami pelecehan seksual, upayakan untuk mendapat penanganan dengan tepat. Kenapa? karena pelaku LGBT adalah korban pelecehan seksual yang tidak tertangani dengan baik dan tumbuh sebagai pelaku.

Satu lagi yang menjadi pembahasan, yaitu solusi. Solusi yang paling penting menurut saya adalah dari tataran keluarga. Dimulai dari membangun kedekatan orangtua dan anak. Selanjutnya ayah dan ibu melakukan peran seperti fitrahnya masing-masing, seperti yang sudah dibahas pada diskusi sebelumnya. Peran ayah dan ibu ini sangat penting salah satunya memberikan pendidikan agama kepada anak. Karena susungguhnya pendidikan agama anak ini adalah tanggung jawab orang tua. Bukan tanggung jawab pihak kedua seperti sekolah ataupun pengasuh.

Setelah dipaparkan semuanya baik kasus, materi, pencegahan, solusi, semakin membuat saya sadar bahwa ini adalah sebuah 'perang'. Kita, para orang tua dituntut untuk menyiapkan anak kita agar bisa berperang melawan LGBT di zamannya kelak. Zaman sekarang saja sungguh sangat ngeri, apalagi zaman anak kita kelak. Siapkan amunisi berupa pendidikan agama dan jangan lupa selalu berdoa kepada Allah karena sebaik-baik penjaga adalah Allah.

Kamis, 15 Agustus 2019

Review Materi 7 "Menjaga Diri dari Kejahatan Seksual"

Diskusi hari ini adalah diskusi paling panas selama 7 hari ini. Bagaimana tidak, semua kasus kejahatan seksual dipaparkan. Percaya atau tidak, kejadian itu kerap terjadi di sekitar kita, bahkan oleh orang-orang terdekat korban. Sebagai ibu dan seorang wanita, rasanya kesal, marah, jengkel, ah semua pokoknya saat membaca berita yang dipaparkan kelompok 7 tadi tentang kejahatan seksual. Kejahatan seksual ini tidak hanya melalui sentuhan, tetapi juga ada yang melalui telepon, pesan, dan lain-lain. Korban pun beragam, dari mulai usia dewasa sampai anak balita pun bisa menjadi korban.

Sebagai orang tua yang bisa kita lakukan adalah membekali anak kita dengan pengetahuan apa yang orang lain boleh lakukan dan tidak boleh lakukan terhadap kita. Apa yang seharusnya anak lakukan jika menghadapi situasi tersebut. Jagalah komunikasi yang baik dengan anak, karena anak yang terbuka akan menceritakan apapun yang dia alami kepada kita. Terakhir, jangan lupa  doakan selalu anak kita. Karena sebaik-baik penjaga adalah Allah Swt.

Rabu, 14 Agustus 2019

Review Materi 6 "Pengaruh Media terhadap Fitrah Seksualitas"

Sejauh mana kaitan media dan fitrah seksualitas? Dari paparan kelompok 6 kemarin, media dan fitrah seksualitas itu sangat berkaitan. Media berperan penting dalam perkembangan fitrah anak. Di satu sisi kita sangat terbantu dengan adanya media untuk berkomunikasi. Adanya telepon, video call, WA, sangat berguna bagi para keluarga yang menjalani Long Distance Marriage (LDM). Tapi, media ini bisa seperti pedang bermata dua. Bagi orang-orang yang tidak bijak memanfaatkannya media akan menjerusmuskan ke lubang gelap. Seperti kasus yang dicontohkan oleh kelompok kemarin. Ada siswa-siswi SD yang beramai-ramai membuat video berkonten pornografi. Di era sekarang, semua dapat diakses melalui handphone (HP). Naudzubillah..

Zaman orangtua kita dulu sebenarnya pun ada kasus seperti hamil di luar nikah. Walaupun zaman dahulu perkembangan media tidak semaju sekarang. Kenapa hal itu bisa terjadi? Perkembangan teknologi memang menjadi salah penyebab, namun yang lebih utama adalah bagaimana para penggunanya memanfaatkan. Kita tidak bisa mengelak dari perkembangan teknologi yang begitu cepat. Tapi kita bisa membentengi kita dan anak-anak kita dengan iman dan tuntaskan perkembangan fitrahnya.

Dari diskusi kemarin banyak juga dibahas mengenai penggunaan gadget pada anak. Saya dulu menentang penggunaan gadget pada anak. Tapi, semakin anak besar, ia semakin penasaran kenapa orangtuanya selalu memegang yang namanya gadget. Akhirnya sekali dua kali diberikan. Namun, saya menyadari efek yang ditimbulkan meskipun saya hanya memberikan maksimal 2 jam per hari. Anak jadi lebih sering tantrum dan lebih sering teriak-teriak. Keputusan untuk tidak memberikan gadget ini tidak bisa saya lakukan sendiri. Kedua orangtua harus terlibat semuanya. Orangtua harus rela puasa gadget demi anak agar tidak melihat orangtuanya main gadget. Selain itu anak harus disibukkan dengan diajak bermain, bernyanyi, dan membaca buku. Kuncinya ada pada orangtuanya.

Memberikan gadget pada usia yang tepat tentu juga akan membantu kita melindungi si anak sendiri. Tentu tidak bijak memberikan anak gadget dengan fasilitas internet kepada anak usia 7 tahun tanpa pengawasan. Kalau saya sendiri  lebih setuju kepada memberikan gadget ketika anak sudah mengerti batasan-batasan apa yang boleh dia lakulan dan tidak lakukan. Tetap saja saya harus mengecek historinya juga isi sosial medianya.

Membaca maraknya kasus pornografi usia dini dari kelompok 6 kemarin membuat saya sadar kita sebagai orangtua harus banyak-banyak belajar serta berusaha lebih untuk memberikan amunisi-amunisi terbaik kepada anak untuk berjuang di zamannya. Bismillah..

Selasa, 13 Agustus 2019

Review Materi 5 "Pentingnya Aqil Baligh Secara Bersamaan"

Seperti hari-hari kemarin, diskusi kelima ini pun berlangsung sangat seru. Ada kurang lebih 300 obrolan yang harus dibaca ketka tertinggal diskusi. Tapi, hal itu tak menyurutkan niat untuk terus manjat ke atas membaca diskusi sampai selesai. Gimana ya maaak, isinya sungguh sangat berbobot.

Pernah mendengar ada kasus hamil diluar nikah? aborsi? pacaran? Pasti pernah kan... Itulah sederetan contoh kasus aqil baligh yang tidak matang secara bersamaan.

Jadi, apa itu aqil baligh?
Singkatnya baligh adalah tercapainya kedewasaan secara biologis, ditandai dengan matangnya organ reproduksi. Ciri yang paling terlihat adalah mulainya menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Sedangkan aqil adalah tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, dan finansial. Aqil baligh secara bersamaan berarti matangnya fisik dan mental secara bersamaan.

Mengapa anak harus dipersiapkan aqil baligh?

Sudah jelas jawabannya, agar tidak terjadi kasus seperti yang saya sebutkan di atas. Selain itu aqil baligh adalah syarat dalam ibadah dan muamalah. Setelah orang aqil baligh maka ia harus bertanggung jawab atas amal perbuatannya. Ia berhak mendapat pahala atau dosa.

Siapa yang bertanggung jawab mendidik anak agar tercapai aqil baligh bersamaan?

Orang tua baik ayah maupun ibu sangat berperan dalam mendidik anaknya agar tercapai aqil baligh bersamaan, terutama ayah. Ayah-lah yang paling bertanggung jawab mengantarkan kedewasaan anak (aqilnya).

Pendidikan untuk mempersiapkan aqil baligh ini tidak bisa semuanya diserahkan kepada pihak sekolah. Kenapa? Karena tidak semua sekolah memiliki visi misi untuk mengedepankan aqil. Masih banyak sekolah yang hanya fokus kepada nilai akademis semata. Meskipun ada sekolah yang mendidik kepribadian/kedewasaan tetap saja nilai-nilai itu harus dipenuhi di rumah. Kenapa? agar ketika anak menuntut ilmu di luar ia sudah aqil, sudah punya benteng yang kuat agar tidak terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik.


Senin, 12 Agustus 2019

Revies Materi 4 "Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Fitrah Seksualitas"

Hari ini adalah hari ke-5 level 11 dan memasuki materi ke 4. Sesaat setelah materi dibagikan, grup kelas sudah ramai sekali. Bayangkan..kurang lebih 300 chat sudah menunggu untuk dibac padahal diskusi belum dimulai. Hal ini membuktikan betapa serunya materi yang dibawakan oleh kelompok 4 ini. Dalam diskusi beberapa waktu lalu, ada teman sekelas yang bilang, "Negeri ini disebut fatherless country". Waktu itu dalam hati saya membantah, ah..masak sih? Tapi, setelah mendapatkan materi ini, kemudian banyak tentang sosok ayah. Hal itulah yang kemudian menuntun saya untuk flashback ke masa saya kecil. Dan..ah iya, rupanya saya ada di barisan anak-anak yang fatherless. Sebagian dari kami punya ayah, yang setiap hari kami bertemu tapi kami tidak mendapatkan figur seorang ayah.

Memangnya apa akibatnya jika tak mendapatkan sosok ayah? Yang saya alami adalah dalam mengasuh anak selama ini saya ada memerankan peran ayah. Seperti misalnya, saya menjadi 'tegaan' dengan anak dan rasa lembut saya berkurang.

Lalu, bagaimana peran ayah seharusnya?
Zaman dulu, peran ayah hanya dipahami sebagai orang yang mencari nafkah. Selain itu semua diserahkan kepada sang ibu. Namun, ternyata anak juga butuh sosok seorang ayah dalam perkembangannya. Ayah itu:
1. Man of mission and vision
2. Penanggung jawab keluarga
3. Sang ego dan individualitas
4. Sang raja tega
5. Suplier maskulinitas
6. Konsultan pendidikan
7. Penegak profesionalisme

Diskusi tadi siang berhasil membuat kami, para peserta diskusi untuk saling introspeksi diri. Apakah kami dulu fatherless? Apakah suami kita juga fatherless? Bagaimana memutus rantai fatherless agar anak-anak kita dapat tumbuh dengan fitrah yang paripurna.

Langkah pertama yang saya lakukan setelah diskusi tadi adalah kirim materi presentasi ke suami, lalu minta beliau untuk membacanya. Selanjutnya komunikasi produktif dengan suami membahas tentang pengasuhan orang tua kami kepada kami dahulu, kami lakukan evaluasi bersama-sama. Kami sadari bahwa terkadang ada peran terbalik yang kami terapkan dalam keluarga. Ayah yang seharusnya menjadi raja tega tetapi saya malah yang lebih tegaan kepada anak. Saya yang seharusnya menjadi pembasuh luka anak, terkadang suami yang lebih lembut ke anak. Itu hanya salah satu contohnya. Selanjutnya kami banyak membahas peran ayah dan ibu pada tahapan-tahapan usia anak seperti materi hari kemarin. Suami bertanya, "Kenapa ayah harus dekat dengan Qiy di usia 10-15?"
Iya, supaya Qiy merasakan dan tahu bagaimana disayangi dan menyayangi oleh laki-laki. Supaya Qiy tidak mudah tergiur oleh rayuan gombal laki-laki yang bilang sayang kepadanya. Begitu jawaban singkat saya yang membuat suami langsung peluk-peluk anak wedok. Kalau diterjemahkan, mungkin kira-kira begini, "Nak, aku ayahmu, yang akan menjadi laki-laki pertama yang kamu cintai"

Rabu, 10 Oktober 2018

Melatih Kemandirian Hari ke 7

Kemandirian pada anak tidak muncul tiba-tiba. Ada proses yang harus dilalui si anak. Peran orangtua disini adalah memberikan stimulus dan terus memberikan dukungan.

Berikut percakapan saya (S) dan Qiyya (Q) pada hari ke 7 Qiyya belajar gosok gigi

S: "Gosok gigi yuuk"
Q: "Emoh, mau mimik cucu"
S: (langsung sodorin sikat ke Qiyya)
Q: (ambil sikat lalu gosok gigi)

Begitulah, semakin hari saya semakin mengerti bagaimana membujuk Qiyya untuk gosok gigi.

Kali ini langsung digiring ke kamar mandi.  Saya coba gosok gigi pakai sedikit pasta gigi. Alhamdulillah..meski ada yang tertelan sedikit..huhuuu.. Yeeay..target hari ini berhasil.. Besok coba gosok giginya 2 kali sehari yaa..pagi dan malam.. bismillah..

Selasa, 09 Oktober 2018

Melatih Kemandirian Hari ke 6

Sore tadi jalan-jalan sama Qiyya dan tantenya ke kota. Ibuk perlu membeli sesuatu. Jam 7 malam baru sampai rumah. Qiyya sudah tidur sejak di mobil tapi bangun lagi ketika sudah sampai rumah. Hampiiiir aja ga gosok gigi malam..hehe..

Malam ini butuh rayuan agak kenceng untuk gosok gigi karena Qiyya udah agak ngantuk. Alhamdulillah masih mau sikat gigi dan disikat giginya.

Malam ini agendanya sikat gigi pakai pasta gigi plus kumur2. Tapi berhubung karena sudah terlalu ngantuk  jadi gosok giginya kilat. Alhamdulillah anaknya masih mau kumur2. Kumur2nya pun belum sempurna, masih ada air yg tertelan jadi pakai air matang.

Alhamdulillah,  selalu bersyukur atas progres yang dibuat Qiyya, sekecil apapun itu..