Rabu, 13 Maret 2019

3 Days Potty Training-nya Qiyya

Salah satu tahapan perkembangan anak yang bikin saya dag dig dug adalah toilet training. Pengen cepet terlewati tapi takut mau mulai. Saya terlanjur nyaman dengan popok. Tapiiii..saya khawatir dengan resiko ISK karena ada urine menempel dipopok juga karena boros maaaaaak. Sebulan habis 200-300ribu. Lumayan kan kalo dialihkan ke skin care. Haha. Dua alasan terakhir ini yg bikin saya pengen cepet2 lepas dari popok.

Persiapan yang saya lakukan adalah pasang sprei tahan air lalu didobel sprei biasa. Bisa saja hanya pakai sprei tahan air  tapi saya dan suami kurang nyaman. Sprei tahan air ini penting bagi saya karena saya ga suka kasur yang kena ompol males dengan bau pesingnya dan juga repotnya membersihkan najisnya. Lalu keluarkan perlak bayinya Qiyya, untuk alas saat tidur. Jangan lupa kain bekas bedong buat alas perlak dan bisa juga untuk lap ompol agar tidak kemana-kemana. Siapkan pel jangan lupa. Oya,,mental ibu dan ayahnya juga harus setrong, siapkan cemilan yg banyak..wkwkwk.

Rencana awal pengen lepas popok di usia 18 bulan. Tapi bulan2 itu kami banyak bolak-balik mudik. Jadi daripada sering ter-pending mending nanti aja sekalian. Akhir bulan Desember 2018 agak selo, jadi diniatkan gak kemana2 sampai lebaran untuk TT (toilet training). Baru sehari TT, kami mudik dadakan karena ada urusan. Tunda lagi deh. Kira-kira 2 bulan setelah itu baru mulai lagi. Ngumpulin niatnya yg lama. Hehe. Baru sehari eh..besoknya Qodarullah Qiyya sakit. Tunda lagi deh seminggu. Setelah sembuh lanjut TT lagi. Alhamdulillah 3 hari selesai. Bahkan hari ketiga selama siang hari tidak ngompol sama sekali. Sebuah prestasi bagi kami. Iyaa..kami rempong bertiga. Rempong tapi less drama. Ga seperti yang kami bayangkan tentang TT.

Jadi, saya pakai metode 3 days potty traininh. Bahasa Indonesianya sih "kebut 3 hari kelar". Saya mulai TT 2 kurleb minggu yang lalu dan sampai sekarang masih merasa ini sebuah metode yg ajaib. Haha.. Pertama kali tau ada metode ini dari senior SMA. Beliau share metode TT anaknya yg berhasil 3 hari pake metode ini. Menggiurkan kaaaan.. Bayangkan aja 3 hari kelar TT. Awalnya ragu juga. Masa iya sih 3 hari. Tapi, setelah baca2 teorinya, make sense sih. Jadi, coba aja buat Qiyya.

Sependek pemahaman saya tentang 3 days potty training ini adalah bagaimana membuat anak ngeh kalo dia pis/pup, merasa gak nyaman kalo dia pis/pup sembarang tempat, dan akhirnya pis/pup di toilet. Pada hari pertama, lepas popok anak, jangan pakaikan celana biar dia ngeh udah ga pakai popo. Kalau Qiyya tetap saya pakaikan celana dalam, kasian kalo kedinginan..wkwk. Lalu beri anak minum sesering mungkin atau jajanan tinggi natrium agar ia sering pipis. Tiap pipis tunjukkan kalo dia pipis dan harus pipis di toilet. Tunjukkan muka kecewa, bukan marah ya. Begini terus sampai hari ketiga. Beri apresiasi kalau dia berhasil pis/pup di toilet. Oiya, sebelum memulai TT pahami kesiapan anak. Mengajarkan sesuatu pada  anak ketika dia sudah siap akan lebih mudah dan cepat daripada buru-buru mengajarkan anak tapi dia belum siap.

Akhir bulan Desember 2018, Qiyya sudah mulai merasa tidak nyaman dengan popok. Dia sudah mengerti apa itu pipis apa itu pup dan saya beberapa kali menemukan popoknya kering selama lebih dari 2 jam. Bahkan pernah semalaman kering. Nah, tanda2 kesiapan itu yang menjadikan saya mantap untuk TT. Kesiapan anak untuk TT ini beda-beda ya maaak. Ada yg lebih cepat dan ada yg lebih lambat. It's okay..

Sebelum dan selama TT saya selalu sounding Qiyya. Selalu saya katakan bahwa dia sudah besar, gak usah pakai popok, pakai celana dalam aja biar nyaman (saya beli celana dalam yg lucu bareng Qiyya), kalau pipis di popok nanti popoknya bau dan kotor. Saya tunjukkan tiap lepas popok bahwa popoknya kotor dan bau.

Hari pertama Qiyya lepas popok ada kejadian lucu. Saya dan suami takut kalo dia ngompol. Yes, yang dibayangkan ketika lepas poppk adalah ompol dimana-mana, bau pesing menguasai ruangan, dan cucian yang numpuk. Jadi, sedikit2 kami tawarkan Qiyya untuk pipis. Hasilnya Qiyya agak takut..wkwk. 4 jam gak pipis. Saya ga tau ditahan atau memang belum kebelet. Suatu kali dia pipis. Dia merasakan sesuatu lalu bilang, "tumpah..tumpah". Lalu menangis, takut, dan memeluk saya setelah saya bilang itu pipis. Wkwkw.. Setelah itu tidak dilanjutkan lagi karena harus kejar pesawat ke bandara. Popokan maneh deh...

Akhir Februari kemarin mulai TT lagi. Balik lagi ke hari pertama. Ngompol pertama dia takut. Saya mencoba sok cool padahal pengen teriak, "Aduuuuuuh...ngepel maneh". Ditahan tahan maaaaak, biar anaknya gak trauma. Kan gak lucu kalo trauma pipis. Hari itu ngompol beberapa kali, malamnya Qiyya agak anget lalu saya pakaikan popok. Besoknya demam bapil. Huhuuu.. tunda lagii, popokan maneh.

Seminggu kemudian Qiyya sembuh. Langsung saya sounding untuk mulai TT lagi. Paginya lepas popok. Hari pertama (lagii) ini lumayan, dia sudah ngeh kalo pipis walaupun telat bilang. Ada yang dia bilang dan sukses pipis di toilet. Saya bahagia. Hahaa..alhamdulillah. Lanjut hari kedua lalu ketiga. Hari keempat ngompol di pagi hari aja, setelah itu ga ngompol sama sekali sampai sekarang selama siang hari. Alhamdulillah.

Oya..saya sarankan buat jurnal TT. Gunanya supaya kita tahu kapan saja waktu anak pipis, jadi bisa dikira2 kapan akan pipis trus ditawarkan pipis di kamar mandi. Soalnya jenuh juga kan kalo tiap jam nawari ke kamar mandi. Hehe. Isinya bebas, kalo saya seperti ini:

JURNAL TOILET TRAINING QIY

Day 1
09.00 lepas popok
13.00 tidur ngompol
16.00 pipis di kamar mandi ✅
17.00 pipis saat mandi ✅
22.00 tidur ngompol
03.00 tidur ngompol

Dari 6 kali pipis,  2 berhasil pipis di kamar mandi, kecuali saat tidur. Berhasil 30%

Day 2
08.00 ngompol
10.00 ngompol, bilang telat
12.00 pipis di kamar mandi ✅
13.00 tidur ngompol
13.30 pipis di kamar mandi ✅
14.30 ngompol, telat bilang
15.10 pipis di kamar mandi ✅
17.30 ngompol, panik nangis bangun tidur
18.00 pake popok

Lumayan..udah hampir 40% berhasil saat bangun.

Day 3
07.30 lepas popok, pipis di kamar mandi ✅
10.30 pipis di kamar mandi✅
12.45 pipis di kamar mandi✅
14.50 pipis di kamar mandi ✅
17.00 pipis di kamar mandi✅
18.30 pipis di kamar mandi ✅
19.30 pipis di kamar mandi ✅
19.30 pake popok

Untuk malamnya, saya baru mulai lagi 2 hari ini. Selama pakai popok di malam hari, saya tetap tawarkan Qiyya untuk ke toilet kalau terbangun.Tapi anaknya ga mau. Paginya popoknya masih basah, meskipun sebelum tidur sudah pipis. Jadi saya berani lepas popok  di malam hari ketika saat tidur siang dia sudah tidak ngompol. Sekarang, kalau malam saya batasi minumnya dan saya taqarkan untuk pipis dulu sebelum tidur. Alhamdulillah 2 malam ini popoknya bersih. Semoga seterusnya juga. Aamiin..

Misi selanjutnya adalah pis/pup di toilet umum karena Qiyya belum nyaman pis/pup di toilet asing. Bismillah..

Poin penting dari TT adalah
1. Lakukan ketika anak siap
2. Konsisten, jangan tergoda untuk pakaikan popok lagi
3. Sounding anak (ngaruh banget bagi saya)
4. Apresiasi jangan lupa yak mak..anak tuh seneng kalo dipuji..

Kamis, 25 Oktober 2018

ALIRAN RASA GAME LEVEL 2

Sepuluh hari mengajarkan kemandirian pada Qiyya mengingatkan saya akan sesuatu yaitu masa-masa di saat saya sekolah. Saat itu hampir setiap malam ibu berkata, "Seragame disiapke dewe, buku-bukune barang, ojo nganthi lali".  Sekarang, saya baru paham semuanya. Saat itu beliau mengajarkan kemandirian pada saya, mengajarkan saya agar tidak bergantung pada orang lain. Pernah suatu ketika  buku saya tertinggal di rumah. Ketika saya menyadarinya, ibu sudah berada di kantor dan tidak ada yang dimintai tolong untuk mengambilkan buku. Yak! Dimarahi guru? Itulah konsekuensi yang harus saya hadapi.

Melalui game level 2 kemarin, saya mengajarkan kemandirian pada Qiyya. Ada 3 hal yang saya ajarkan yaitu menggosok gigi terutama di malam hari, mampu mengutarakan keinginannya dengan baik, dan membereskan mainan. Alhamdulillah sudah ada kemajuan. Qiyya mau menggosok dan digosok giginya, meskipun harus dengan seribu rayuan. Dia pun mampu mengutarakan apa yang ia mau dengan baik, tanpa teriakan, tangisan dan tanpa marah-marah. Kami membuat rules bahwa saya tidak akan menuruti permintaannya jika tidak dikatakan dengan baik. Nah, bagian membereskan mainan sendiri ini masih PR bagi saya. Saya belum berhasil menumbuhkan rasa tanggung jawab akan mainannya sendiri.

Banyak yang saya pelajari dari game level 2 ini. Salah satunya adalah mengajarkan kemandirian pada anak dibutuhkan pendidik (dalam hal ini bisa ibunya) yang konsisten untuk mengajarkan kemandirian. Mengajarkan kemandirian pada anak tidak bisa instan. Butuh proses yang tidak sebentar. Untuk itu selain konsisten juga diperlukan kesabaran. Saya pun belajar bersabar dan konsisten dari game level 2 ini. Prinsip saya adalah, "Ajarkan kemandirian pada Qiyya sekarang, atau akan lebih sulit jika mengajarkannya ketika dia sudah dewasa".

Saya melihat, Qiyya yang bisa menggosok giginya sendiri atau Qiyya yang bisa membuang sampah sendiri menjadi lebih percaya diri. Ia bangga melakukan hal-hal tersebut sendiri. Itulah sebagian kecil manfaat kemandirian pada anak. Untuk jangka panjangnya tentunya adalah mempersiapkan Qiyya untuk tidak bergantung pada saya karena tidak selamanya saya bisa menemani Qiyya.

Rabu, 10 Oktober 2018

Melatih Kemandirian Hari ke 7

Kemandirian pada anak tidak muncul tiba-tiba. Ada proses yang harus dilalui si anak. Peran orangtua disini adalah memberikan stimulus dan terus memberikan dukungan.

Berikut percakapan saya (S) dan Qiyya (Q) pada hari ke 7 Qiyya belajar gosok gigi

S: "Gosok gigi yuuk"
Q: "Emoh, mau mimik cucu"
S: (langsung sodorin sikat ke Qiyya)
Q: (ambil sikat lalu gosok gigi)

Begitulah, semakin hari saya semakin mengerti bagaimana membujuk Qiyya untuk gosok gigi.

Kali ini langsung digiring ke kamar mandi.  Saya coba gosok gigi pakai sedikit pasta gigi. Alhamdulillah..meski ada yang tertelan sedikit..huhuuu.. Yeeay..target hari ini berhasil.. Besok coba gosok giginya 2 kali sehari yaa..pagi dan malam.. bismillah..

Selasa, 09 Oktober 2018

Melatih Kemandirian Hari ke 6

Sore tadi jalan-jalan sama Qiyya dan tantenya ke kota. Ibuk perlu membeli sesuatu. Jam 7 malam baru sampai rumah. Qiyya sudah tidur sejak di mobil tapi bangun lagi ketika sudah sampai rumah. Hampiiiir aja ga gosok gigi malam..hehe..

Malam ini butuh rayuan agak kenceng untuk gosok gigi karena Qiyya udah agak ngantuk. Alhamdulillah masih mau sikat gigi dan disikat giginya.

Malam ini agendanya sikat gigi pakai pasta gigi plus kumur2. Tapi berhubung karena sudah terlalu ngantuk  jadi gosok giginya kilat. Alhamdulillah anaknya masih mau kumur2. Kumur2nya pun belum sempurna, masih ada air yg tertelan jadi pakai air matang.

Alhamdulillah,  selalu bersyukur atas progres yang dibuat Qiyya, sekecil apapun itu..

Kamis, 20 September 2018

Komunikasi Produktif hari ke 15

Siang tadi Qiyya agak rewel. Dia mengantuk tapi ga mau tidur. Ndilalah ayahnya mau keluar sebentar  mau potong rambut. Qiyya pun pengen ikut. Qiyya ikut  saya pun harus ikut. Kami pun siap-siap.

Selesai siap2, Qiyya tambah mengantuk. Saya bilang, "Qiyya ndak usah ikut ayah yaa..di rumah aja bobok sama ibuk." Dia bilang, "Emoh..mau itut, maik mobing." (Mau ikut  naik mobil). Memang yaa..kalau sudah janji sama anak harus ditepati.

Yasudah, akhirnya kami ikut. Berangkatlah kami.. alhamdulillah di tengah jalan Qiyya anteng, ngantuk..hehe.. Selesai potong rambut, langsung menuju rumah. Qiyya akhirnya mau bobo..

Selama 15 hari melakulan tantangan komunikasi produktif dengan anak, saya jadi lebih banyak belajar. Belajar untuk bersabar, belajar merangkai kata agar yang dikatakan adalah kalimat yang efektif, dan tentunya belajar lebih memahami anak. Semoga kedepan bisa konsisten menggunakan komunikasi yang produktif kepada anak

Rabu, 19 September 2018

Komunikasi Produktif hari ke 14

Percakapan saya dan qiyya pagi ini ketika memasak. Saya (S) dan Qiyya (Q)

S: "Qiyya, ibuk mau ambil daun jeruk sama serai di depan, Qiyya tunggu disini atau ikut.."

Q: "Itut."

S: "Oke.."

Beberapa saat kemudian..

S: "Ibuk dah selesai, masuk yuk.."

Q: "Emoh.."

S: "Yaudah, Qiyya main di luar dulu. Kalau mau masuk bilang yaa.." (Qiyya main di luar rumah tapi masih di dalam gerbang, sambil saya sesekali menengok keluar. Pintu depan saya tutup karena kucing suka masuk. Saya melanjutkan masak di dapur ).

Q: "Mau macuk.." (bilang mau masuk setelah beberapa saat bermain sendiri)

S: "Yuk sini..ibuk bukakan pintu.."

Q: "Dadah mium..becok yagi." (Dadah meong, besok lagi).

Alhamdulillah..ibuk bisa masak tanpa tangisan Qiyya dan  Qiyya senang bisa main di luar. Kuncinya, komunikasi yg produktif dengan anak. Pahami dia maunya apa dan sampaikan apa yang kita mau dengan kalimat yang mudah dipahami dan intonasi yang lembut.

Selasa, 18 September 2018

Komunikasi Produktif hari ke 13

Jam 9 pagi tadi saya mengajak Qiyya belanja sayur ke toko sayur depan perumahan. Seperti biasanya Qiyya sambil naik sepeda. Nah  sewaktu sampai depan pagar rumah saya baru tahu kalau Qiyya pup. Saya berencana untuk ganti popok dulu baru belanja. Tapi Qiyya tidak mau. Sudah dijelaskan dengan kalimat yang sederhana dan nada yang ramah pun tak mau.

Saya ubah strategi. Tetap mendorong sepeda Qiyya tapi tidak ke toko sayur melainkan toko depan gang. Hehe.. sampai sana kami membeli yogurt lalu pulang dan mengganti popok Qiyya. Mungkin kata Qiyya, "Kan ibuk sudah janji mau sepedaan". 😊😊