Kamis, 15 Agustus 2019

Review Materi 7 "Menjaga Diri dari Kejahatan Seksual"

Diskusi hari ini adalah diskusi paling panas selama 7 hari ini. Bagaimana tidak, semua kasus kejahatan seksual dipaparkan. Percaya atau tidak, kejadian itu kerap terjadi di sekitar kita, bahkan oleh orang-orang terdekat korban. Sebagai ibu dan seorang wanita, rasanya kesal, marah, jengkel, ah semua pokoknya saat membaca berita yang dipaparkan kelompok 7 tadi tentang kejahatan seksual. Kejahatan seksual ini tidak hanya melalui sentuhan, tetapi juga ada yang melalui telepon, pesan, dan lain-lain. Korban pun beragam, dari mulai usia dewasa sampai anak balita pun bisa menjadi korban.

Sebagai orang tua yang bisa kita lakukan adalah membekali anak kita dengan pengetahuan apa yang orang lain boleh lakukan dan tidak boleh lakukan terhadap kita. Apa yang seharusnya anak lakukan jika menghadapi situasi tersebut. Jagalah komunikasi yang baik dengan anak, karena anak yang terbuka akan menceritakan apapun yang dia alami kepada kita. Terakhir, jangan lupa  doakan selalu anak kita. Karena sebaik-baik penjaga adalah Allah Swt.

Rabu, 14 Agustus 2019

Review Materi 6 "Pengaruh Media terhadap Fitrah Seksualitas"

Sejauh mana kaitan media dan fitrah seksualitas? Dari paparan kelompok 6 kemarin, media dan fitrah seksualitas itu sangat berkaitan. Media berperan penting dalam perkembangan fitrah anak. Di satu sisi kita sangat terbantu dengan adanya media untuk berkomunikasi. Adanya telepon, video call, WA, sangat berguna bagi para keluarga yang menjalani Long Distance Marriage (LDM). Tapi, media ini bisa seperti pedang bermata dua. Bagi orang-orang yang tidak bijak memanfaatkannya media akan menjerusmuskan ke lubang gelap. Seperti kasus yang dicontohkan oleh kelompok kemarin. Ada siswa-siswi SD yang beramai-ramai membuat video berkonten pornografi. Di era sekarang, semua dapat diakses melalui handphone (HP). Naudzubillah..

Zaman orangtua kita dulu sebenarnya pun ada kasus seperti hamil di luar nikah. Walaupun zaman dahulu perkembangan media tidak semaju sekarang. Kenapa hal itu bisa terjadi? Perkembangan teknologi memang menjadi salah penyebab, namun yang lebih utama adalah bagaimana para penggunanya memanfaatkan. Kita tidak bisa mengelak dari perkembangan teknologi yang begitu cepat. Tapi kita bisa membentengi kita dan anak-anak kita dengan iman dan tuntaskan perkembangan fitrahnya.

Dari diskusi kemarin banyak juga dibahas mengenai penggunaan gadget pada anak. Saya dulu menentang penggunaan gadget pada anak. Tapi, semakin anak besar, ia semakin penasaran kenapa orangtuanya selalu memegang yang namanya gadget. Akhirnya sekali dua kali diberikan. Namun, saya menyadari efek yang ditimbulkan meskipun saya hanya memberikan maksimal 2 jam per hari. Anak jadi lebih sering tantrum dan lebih sering teriak-teriak. Keputusan untuk tidak memberikan gadget ini tidak bisa saya lakukan sendiri. Kedua orangtua harus terlibat semuanya. Orangtua harus rela puasa gadget demi anak agar tidak melihat orangtuanya main gadget. Selain itu anak harus disibukkan dengan diajak bermain, bernyanyi, dan membaca buku. Kuncinya ada pada orangtuanya.

Memberikan gadget pada usia yang tepat tentu juga akan membantu kita melindungi si anak sendiri. Tentu tidak bijak memberikan anak gadget dengan fasilitas internet kepada anak usia 7 tahun tanpa pengawasan. Kalau saya sendiri  lebih setuju kepada memberikan gadget ketika anak sudah mengerti batasan-batasan apa yang boleh dia lakulan dan tidak lakukan. Tetap saja saya harus mengecek historinya juga isi sosial medianya.

Membaca maraknya kasus pornografi usia dini dari kelompok 6 kemarin membuat saya sadar kita sebagai orangtua harus banyak-banyak belajar serta berusaha lebih untuk memberikan amunisi-amunisi terbaik kepada anak untuk berjuang di zamannya. Bismillah..

Selasa, 13 Agustus 2019

Review Materi 5 "Pentingnya Aqil Baligh Secara Bersamaan"

Seperti hari-hari kemarin, diskusi kelima ini pun berlangsung sangat seru. Ada kurang lebih 300 obrolan yang harus dibaca ketka tertinggal diskusi. Tapi, hal itu tak menyurutkan niat untuk terus manjat ke atas membaca diskusi sampai selesai. Gimana ya maaak, isinya sungguh sangat berbobot.

Pernah mendengar ada kasus hamil diluar nikah? aborsi? pacaran? Pasti pernah kan... Itulah sederetan contoh kasus aqil baligh yang tidak matang secara bersamaan.

Jadi, apa itu aqil baligh?
Singkatnya baligh adalah tercapainya kedewasaan secara biologis, ditandai dengan matangnya organ reproduksi. Ciri yang paling terlihat adalah mulainya menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Sedangkan aqil adalah tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, dan finansial. Aqil baligh secara bersamaan berarti matangnya fisik dan mental secara bersamaan.

Mengapa anak harus dipersiapkan aqil baligh?

Sudah jelas jawabannya, agar tidak terjadi kasus seperti yang saya sebutkan di atas. Selain itu aqil baligh adalah syarat dalam ibadah dan muamalah. Setelah orang aqil baligh maka ia harus bertanggung jawab atas amal perbuatannya. Ia berhak mendapat pahala atau dosa.

Siapa yang bertanggung jawab mendidik anak agar tercapai aqil baligh bersamaan?

Orang tua baik ayah maupun ibu sangat berperan dalam mendidik anaknya agar tercapai aqil baligh bersamaan, terutama ayah. Ayah-lah yang paling bertanggung jawab mengantarkan kedewasaan anak (aqilnya).

Pendidikan untuk mempersiapkan aqil baligh ini tidak bisa semuanya diserahkan kepada pihak sekolah. Kenapa? Karena tidak semua sekolah memiliki visi misi untuk mengedepankan aqil. Masih banyak sekolah yang hanya fokus kepada nilai akademis semata. Meskipun ada sekolah yang mendidik kepribadian/kedewasaan tetap saja nilai-nilai itu harus dipenuhi di rumah. Kenapa? agar ketika anak menuntut ilmu di luar ia sudah aqil, sudah punya benteng yang kuat agar tidak terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik.


Senin, 12 Agustus 2019

Revies Materi 4 "Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Fitrah Seksualitas"

Hari ini adalah hari ke-5 level 11 dan memasuki materi ke 4. Sesaat setelah materi dibagikan, grup kelas sudah ramai sekali. Bayangkan..kurang lebih 300 chat sudah menunggu untuk dibac padahal diskusi belum dimulai. Hal ini membuktikan betapa serunya materi yang dibawakan oleh kelompok 4 ini. Dalam diskusi beberapa waktu lalu, ada teman sekelas yang bilang, "Negeri ini disebut fatherless country". Waktu itu dalam hati saya membantah, ah..masak sih? Tapi, setelah mendapatkan materi ini, kemudian banyak tentang sosok ayah. Hal itulah yang kemudian menuntun saya untuk flashback ke masa saya kecil. Dan..ah iya, rupanya saya ada di barisan anak-anak yang fatherless. Sebagian dari kami punya ayah, yang setiap hari kami bertemu tapi kami tidak mendapatkan figur seorang ayah.

Memangnya apa akibatnya jika tak mendapatkan sosok ayah? Yang saya alami adalah dalam mengasuh anak selama ini saya ada memerankan peran ayah. Seperti misalnya, saya menjadi 'tegaan' dengan anak dan rasa lembut saya berkurang.

Lalu, bagaimana peran ayah seharusnya?
Zaman dulu, peran ayah hanya dipahami sebagai orang yang mencari nafkah. Selain itu semua diserahkan kepada sang ibu. Namun, ternyata anak juga butuh sosok seorang ayah dalam perkembangannya. Ayah itu:
1. Man of mission and vision
2. Penanggung jawab keluarga
3. Sang ego dan individualitas
4. Sang raja tega
5. Suplier maskulinitas
6. Konsultan pendidikan
7. Penegak profesionalisme

Diskusi tadi siang berhasil membuat kami, para peserta diskusi untuk saling introspeksi diri. Apakah kami dulu fatherless? Apakah suami kita juga fatherless? Bagaimana memutus rantai fatherless agar anak-anak kita dapat tumbuh dengan fitrah yang paripurna.

Langkah pertama yang saya lakukan setelah diskusi tadi adalah kirim materi presentasi ke suami, lalu minta beliau untuk membacanya. Selanjutnya komunikasi produktif dengan suami membahas tentang pengasuhan orang tua kami kepada kami dahulu, kami lakukan evaluasi bersama-sama. Kami sadari bahwa terkadang ada peran terbalik yang kami terapkan dalam keluarga. Ayah yang seharusnya menjadi raja tega tetapi saya malah yang lebih tegaan kepada anak. Saya yang seharusnya menjadi pembasuh luka anak, terkadang suami yang lebih lembut ke anak. Itu hanya salah satu contohnya. Selanjutnya kami banyak membahas peran ayah dan ibu pada tahapan-tahapan usia anak seperti materi hari kemarin. Suami bertanya, "Kenapa ayah harus dekat dengan Qiy di usia 10-15?"
Iya, supaya Qiy merasakan dan tahu bagaimana disayangi dan menyayangi oleh laki-laki. Supaya Qiy tidak mudah tergiur oleh rayuan gombal laki-laki yang bilang sayang kepadanya. Begitu jawaban singkat saya yang membuat suami langsung peluk-peluk anak wedok. Kalau diterjemahkan, mungkin kira-kira begini, "Nak, aku ayahmu, yang akan menjadi laki-laki pertama yang kamu cintai"

Sabtu, 10 Agustus 2019

Review Materi 3: "Peran Orangtua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak"

Seperti yang saya tulis dalam review materi 2 kemarin, bahwa peran orangtua sangat besar dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak. Materi yang disampaikan hari ini pun berkaitan bahkan hampir mirip dengan materi kemarin. Semakin menegaskan bahwa peran ayah ibu dalam mendidik fitrah seksualitas anak sangat besar. Sang ayah berperan mengisi sisi maskulinitas anak dan sang ibu berperan mengisi sisi feminitasnya. Bagaimana jika  sang ibu lebih dominan dalam rumah tangga? Semisal selalu mengambil keputusan atau terlalu mandiri. Hal ini bisa menggerus sisi feminitasnya yang nantinya juga akan berpengaruh pada anak. Ingat ya maak, anak itu mencontoh apa yang ia lihat. Saya jadi ingat bagaimana saya tumbuh di keluarga yang menuntut untuk mandiri dalam hal apapun. Ya, meskipun saya tiga bersaudara perempuan semua tapi kami dididik untuk bisa melakukan apapun. Jadi wonder woman begitu ceritanya. Bukan karena ibu saya mengambil peran yang dominan daripada bapak. Tapi memang tuntutan bapak ke kami begitu. Setelah menikah barulah saya sadar. Ada kalanya saya harus meminta bantuan suami untuk melakukan sesuatu meskipun saya sebenarnya bisa melakukannya sendiri, seperti memasang tabung gas, mengganti galon air minum, mengangkat sesuatu yang agak berat, dan lainnya. Kenapa? Saya merasa suami saya merasa dirinya bisa diandalkan. Dan peran suami dalam rumah tangga sebagai penanggung jawab serta pelindung jadi lebih terlihat. Anak yang melihat kami bekerja sama dalam rumah tangga pun akan berpikir bahwa ayahnya keren, hebat mau membantu ibunya. Ia akan melihat bahwa ayahnya punya peran besar di rumah. Tapi, kalau ayahnya sedang keluar kota, tunjukkan bahwa kita juga bisa mandiri, pasang tabung gas sendiri, angkat galon, nyetir sendiri, hihihii :)

Diskusi tadi banyak dibahas tentang bagaimana jika suami kurang bekerja sama dalam mendidik anak dan bagaimana jika LDM?
Saya pernah bilang sama suami, bahwa dalam mengurus anak kita harus bekerja sama, tidak bisa sendiri. Saya paham, terkadang ada laki-laki yang empatinya rendah. Nah disitu peran istrinya untuk melakukan komunikasi produktif agar suaminya mau berperan dalam mendidik anak. Kalau saya sendiri, sewaktu Qiy kecil saya sesekali meminta ayahnya untuk mengganti popoknya atau hal remeh lain agar ada interaksi ayah dengan anak. Walaupun sebenarnya hal-hal tersebut bisa saya lakukan sendiri. Tujuannya agar ayah tidak canggung dengan anaknya dan anak merasa dekat dengan ayahnya. Hal-hal tersebut berefek lhoo, akhirnya sekarang mereka berdua dekat sekali.

Mem-branding sosok ayah

Dari diskusi tadi, saya dapat simpulkan bahwa hal yang dapat kita lakukan saat LDM dengan suami adalah mem-branding sosok ayah kepada anak. Kita bisa menceritakan kepada anak, apa yang sedang dilakukan ayahnya, betapa hebatnya ayah mencari nafkah untuk keluarganya, bagaimana sayangnya ayah kepada keluarganya, dan lain-lain. Dengan begitu anak akan tetap mendapatkan kehadiran ayah. Dulu saya pernah menjalani LDM juga selama 5 bulan sewaktu Qiy bayi. Setiap hari rasanya ingin cepat-cepat menyusul agar anak kenal dengan ayahnya. Tapi sayangnya belum diizinkan orangtua. Beliau khawatir saya akan kerepotan. Di saat LDM itu saya sering mendengarkan suara ayahnya ke Qiy dan mengirim foto-foto Qiy ke ayahnya. Tujuannya agar tetap ada ikatan di antara mereka. Salut untuk suami istri yang menjalani LDM. Semoga Allah selalu berikan kemudahan.

Saya pernah terpikir sesuatu, "Besok kalau Qiy besar dia mau curhat ke orangtuanya gak ya?" Saya pernah baca kalau anak harus dilatih agar ia dekat dan terbuka dengan orangtuanya. Salah satunya jika nanti anak sudah akan memasuki baligh dia tak sungkan bercerita kepada orangtuanya. Misalnya jika Qiy akan mengalami menstruasi nantinya. Sebelum itu ia harus paham dulu, apa itu menstruasi, bagaimana mandi wajib, bagaimana hukumnya jika sudah menstruasi? Nah, untuk menjelaskan itu semua saya kira saya harus dekat dengan Qiy dulu, biar nyaman kalau menjelaskannya. Mulai sekarang, saya sering memancing Qiy untuk ngobrol-ngobrol tentang apa yang ia alami hari ini. Hal apa yang ia sukai. Setelah itu nasihat-nasihat yang baik berkaitan apa yang ia alami tadi. Saya pun sering bercerita tentang apa yang saya alami, bagaimana perasaan saya hari itu kepada Qiy. Dengan ikhtiar ini semoga nanti Qiy menjadi anak yang terbuka.



Jumat, 09 Agustus 2019

Review Materi 2 "Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini"

Bismillahirrohmanirrohim..


Materi kedua ini jatahnya kelompok kami yang mempresentasikan materi. Senengnya mendapat giliran awal adalah cepat selesai, tidak terbebani lagi. Tantangannya adalah waktu yang mepet. But it's okay..kami sudah melaluinya dengan sangat baik menurut saya. Selamat untuk kelompok 2. Big applause...

Setelah materi pertama membahas gender dan sex. Giliran kelompok kami membahas pendidikan fitrah seksualitas sejak dini. Sewaktu saya mencari materi di internet. Jarang sekali ditemukan hal yang berkaitan dengan pendidikan fitrah seksualitas tetapi kebanyakan lebih menyebut dengan pendidikan seks. Hmm...padahal pendidikan fitrah seksualitas itu lebih luas cakupannya lho. Meskipun begitu ada yang bahasannya sesuai dengan materi ini.

Pendidikan fitrah seksualitas itu harus dan wajib diajarkan sejak lahir lho. Misalnya bayi perempuan, pakaikan aksesoris perempuan. Bayi laki-laki pakaikan baju dan aksesoris laki-laki. Jangan sampai memakaikan bando ke anak laki-laki walaupun itu hanya lucu-lucuan. It's a big no yaaaa, karena akan mencederai fitrahnya. Kemudian, semakin besar ajarkan ia rasa malu, ajarkan apa itu aurat, pahamkan bahwa ia adalah laki-laki atau perempuan. Sehingga di usia 3 tahun anak sudah paham dengan fitrah gendernya.

Kenapa sih harus dikenalkan sejak dini?

Agar anak tumbuh sesuai dengan fitrah seksualitasnya dengan paripurna. Bila ia laki-laki maka ia akan tumbuh dengan maskulinitas yang lebih dominan. Ia akan menjadi orang yang tanggung jawab serta tegas sesuai fitrahnya. Apabila ia perempuan, ia akan tumbuh dengan feminitas yang dominan. Ia akan mampu untuk mendidik anaknya serta berperilaku dengan lembut. Kalau menurut buku Fitrah Based Education. Seorang laki-laki sebaiknya memiliki 70% maskulinitas dan 30% feminitas. Berlaku sebaliknya untuk perempuan.

Selain itu, agar tidak ada penyimpangan seksualitas di kemudian hari. Kasus seperti ini sudah banyak sekali terjadi di masa ini. Fisiknya laki-laki tapi melambai, kasus transgender, homo, lesbian, pernikahan sesama jenis.

Peran keluarga dalam pendidikan fitrah seksualitas sangat penting. Sosok ayah dan ibu harus hadir dalam setiap perkembangan anak sampai akil baligh. Dalam buku FBE dijelaskan sampai usia 2 tahun anak harus dekat dengan ibunya. Usia 3-6 tahun harus dekat dengan keduanya. Umur 7-10 anak laki-laki dekatkan dengan ayahnya, perempuan dengan ibunya. Lalu usia 11-14 laki-laki dekatkan dengan ibunya dan sebaliknya. Bila ayah atau ibu tak bisa membersamai anak, misalnya karena meninggal atau single parent, maka tetap hadirkan sosok ayah atau ibu. Bisa dengan kakeknya, pamannya, tantenya, neneknya, atau gurunya.

Beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mendidik fitrah seksualitas sejak dini di rumah antara lain:
1. Mengenalkan rasa malu
2. Mengenalkan aurat
3. Memisah kamar anak dengan orang tua (sesuai dengan perintah agama, salah satunya menjaga psikologis anak agar tidak terganggu karena tidak sengaja melihat orangtuanya berhubungan suami istri)
4. Memisah kamar anak laki dengan perempuan. Juga anak laki dengan laki dan perempuan dengan perempuan.
5. Meminta izin saat mau masuk ke kamar orangtua. Terutama di 3 waktu yaitu setelah fajar, setelah dzuhur, dan setelah Isya.

Sewaktu diskusi tadi seru sekali membahas pisah kamar dengan anak. Suatu tantangan sendiri memang berpisah kamar dengan anak. Selain harus menyiapkan kamar  yang butuh biaya juga memerlukan 'ketegaan'. Kalau saya sendiri, karena anak masih 2 tahun 4 bulan, masih tidur bersama. Lagipula anaknya masih minum ASI. Jadi PR nya lebih ke bagaimana menyapih dengan cinta lebih dahulu.

Selama ini saya membiasakan anak untuk berpakaian sopan seperti tidak memakai kaos dalam saja saat bermain keluar rumah meskipun kepanasan, memakai baju renang kalau berenang, juga mengenalkan rasa malu dan aurat. Meskipun anaknya belum paham 100%. Sejauh ini dia bisa membedakan mana yang cantik, yang berarti perempuan dan mana yang ganteng, yang berarti itu laki-laki. Meski begitu, ada juga PR nya. Bismillah..

Kamis, 08 Agustus 2019

Review Materi 1 "Pemahaman Perbedaan Gender"

Game level 11 telah tiba. Materi yang dibahas semakin menarik dan seru, yaitu fitrah seksualitas. Sekilas yang saya paham tentang pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas ini dilakukan sejak bayi lahir ke dunia. Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berfikir dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai laki-laki maupun perempuan sejati.

Gender vs Seks

Gender itu adalah apa yang tampak sebagai maskulinitas atau feminitas. Sedangkan seks adalah pembagian dua jenis kelamin berdasarkan kromosom yaitu kromosom X dan Y. Sehingga tampak ciri yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Yakni laki-laki memiliki jakun, skrotum, penis, dan menghasilkan sperma. Sedangkan perempuan mempunyai rahim, sel telur, mengalami haid.

Seorang laki-laki tidak 100% memiliki sifat maskulin, akan tetapi ia juga memiliki sisi feminis. Bayangkan saja jika seorang laki-laki hanya berfikir menggunakan otak tanpa perasaan. Hmmmm... Nah, berapa presentase feminis pada laki-laki ditentukan oleh seberapa besar peran ibu dalam pengasuhannya. Begitu juga dengan maskulinitas pada perempuan.

Gender dalam Pandangan Islam

Persamaan laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah sama-sama memiliki kewajiban beribadah kepada Allah dan memperoleh pahala. Adapun perbedaannya adalah dalam hal kodrat, syariat (penetapan hukum waris, kedudukan laki-laki, nilai dalam persaksian). Namun, keduanya saling melengkapi dan bersinergi, bukan saling berkompetisi siapa yang paling hebat.

Fitrah Laki-laki dan Perempuan

Laki-laki dan perempuan memiliki fitrah yang berbeda. Laki-laki memiliki sifat yang lebih tegas dan keras karena fitrahnya sebagai pemimpin dan penjaga keluarga dari gangguan. Sedangkan perempuan memiliki sifat yang didominasi oleh perasaan karena fitrahnya dalam merawat mendidik anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Efek Gender dengan Perkembangan Anak

Fitrah seksualitas ini harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan di kemudian hari. Agar tidak terjadi penyimpangan, peran orang tua, ayah dan ibu sangat diperlukan. Sosok ayah dan ibu harus hadir dalam setiap perkembangan anak. Sejak lahir hingga akil baligh yaitu 0-15 tahun. Sosok ayah dan ibu ini harus hadir sesuai dengan porsinya, tidak lebih atau tidak kurang agar maskulinitas dan feminitas tumbuh sesuai porsinya. Idealnya, laki-laki memiliki sifat maskulinitas 70% dan feminisme 30%, sebaliknya dengan perempuan. Peran keluarga dalam pendidikan fitrah seksualitas ini sangat penting. Jangan sampai anak mendapatkan informasi dari luar yang kurang tepat.