Jumat, 09 Agustus 2019

Review Materi 2 "Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini"

Bismillahirrohmanirrohim..


Materi kedua ini jatahnya kelompok kami yang mempresentasikan materi. Senengnya mendapat giliran awal adalah cepat selesai, tidak terbebani lagi. Tantangannya adalah waktu yang mepet. But it's okay..kami sudah melaluinya dengan sangat baik menurut saya. Selamat untuk kelompok 2. Big applause...

Setelah materi pertama membahas gender dan sex. Giliran kelompok kami membahas pendidikan fitrah seksualitas sejak dini. Sewaktu saya mencari materi di internet. Jarang sekali ditemukan hal yang berkaitan dengan pendidikan fitrah seksualitas tetapi kebanyakan lebih menyebut dengan pendidikan seks. Hmm...padahal pendidikan fitrah seksualitas itu lebih luas cakupannya lho. Meskipun begitu ada yang bahasannya sesuai dengan materi ini.

Pendidikan fitrah seksualitas itu harus dan wajib diajarkan sejak lahir lho. Misalnya bayi perempuan, pakaikan aksesoris perempuan. Bayi laki-laki pakaikan baju dan aksesoris laki-laki. Jangan sampai memakaikan bando ke anak laki-laki walaupun itu hanya lucu-lucuan. It's a big no yaaaa, karena akan mencederai fitrahnya. Kemudian, semakin besar ajarkan ia rasa malu, ajarkan apa itu aurat, pahamkan bahwa ia adalah laki-laki atau perempuan. Sehingga di usia 3 tahun anak sudah paham dengan fitrah gendernya.

Kenapa sih harus dikenalkan sejak dini?

Agar anak tumbuh sesuai dengan fitrah seksualitasnya dengan paripurna. Bila ia laki-laki maka ia akan tumbuh dengan maskulinitas yang lebih dominan. Ia akan menjadi orang yang tanggung jawab serta tegas sesuai fitrahnya. Apabila ia perempuan, ia akan tumbuh dengan feminitas yang dominan. Ia akan mampu untuk mendidik anaknya serta berperilaku dengan lembut. Kalau menurut buku Fitrah Based Education. Seorang laki-laki sebaiknya memiliki 70% maskulinitas dan 30% feminitas. Berlaku sebaliknya untuk perempuan.

Selain itu, agar tidak ada penyimpangan seksualitas di kemudian hari. Kasus seperti ini sudah banyak sekali terjadi di masa ini. Fisiknya laki-laki tapi melambai, kasus transgender, homo, lesbian, pernikahan sesama jenis.

Peran keluarga dalam pendidikan fitrah seksualitas sangat penting. Sosok ayah dan ibu harus hadir dalam setiap perkembangan anak sampai akil baligh. Dalam buku FBE dijelaskan sampai usia 2 tahun anak harus dekat dengan ibunya. Usia 3-6 tahun harus dekat dengan keduanya. Umur 7-10 anak laki-laki dekatkan dengan ayahnya, perempuan dengan ibunya. Lalu usia 11-14 laki-laki dekatkan dengan ibunya dan sebaliknya. Bila ayah atau ibu tak bisa membersamai anak, misalnya karena meninggal atau single parent, maka tetap hadirkan sosok ayah atau ibu. Bisa dengan kakeknya, pamannya, tantenya, neneknya, atau gurunya.

Beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mendidik fitrah seksualitas sejak dini di rumah antara lain:
1. Mengenalkan rasa malu
2. Mengenalkan aurat
3. Memisah kamar anak dengan orang tua (sesuai dengan perintah agama, salah satunya menjaga psikologis anak agar tidak terganggu karena tidak sengaja melihat orangtuanya berhubungan suami istri)
4. Memisah kamar anak laki dengan perempuan. Juga anak laki dengan laki dan perempuan dengan perempuan.
5. Meminta izin saat mau masuk ke kamar orangtua. Terutama di 3 waktu yaitu setelah fajar, setelah dzuhur, dan setelah Isya.

Sewaktu diskusi tadi seru sekali membahas pisah kamar dengan anak. Suatu tantangan sendiri memang berpisah kamar dengan anak. Selain harus menyiapkan kamar  yang butuh biaya juga memerlukan 'ketegaan'. Kalau saya sendiri, karena anak masih 2 tahun 4 bulan, masih tidur bersama. Lagipula anaknya masih minum ASI. Jadi PR nya lebih ke bagaimana menyapih dengan cinta lebih dahulu.

Selama ini saya membiasakan anak untuk berpakaian sopan seperti tidak memakai kaos dalam saja saat bermain keluar rumah meskipun kepanasan, memakai baju renang kalau berenang, juga mengenalkan rasa malu dan aurat. Meskipun anaknya belum paham 100%. Sejauh ini dia bisa membedakan mana yang cantik, yang berarti perempuan dan mana yang ganteng, yang berarti itu laki-laki. Meski begitu, ada juga PR nya. Bismillah..

Kamis, 08 Agustus 2019

Review Materi 1 "Pemahaman Perbedaan Gender"

Game level 11 telah tiba. Materi yang dibahas semakin menarik dan seru, yaitu fitrah seksualitas. Sekilas yang saya paham tentang pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas ini dilakukan sejak bayi lahir ke dunia. Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berfikir dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai laki-laki maupun perempuan sejati.

Gender vs Seks

Gender itu adalah apa yang tampak sebagai maskulinitas atau feminitas. Sedangkan seks adalah pembagian dua jenis kelamin berdasarkan kromosom yaitu kromosom X dan Y. Sehingga tampak ciri yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Yakni laki-laki memiliki jakun, skrotum, penis, dan menghasilkan sperma. Sedangkan perempuan mempunyai rahim, sel telur, mengalami haid.

Seorang laki-laki tidak 100% memiliki sifat maskulin, akan tetapi ia juga memiliki sisi feminis. Bayangkan saja jika seorang laki-laki hanya berfikir menggunakan otak tanpa perasaan. Hmmmm... Nah, berapa presentase feminis pada laki-laki ditentukan oleh seberapa besar peran ibu dalam pengasuhannya. Begitu juga dengan maskulinitas pada perempuan.

Gender dalam Pandangan Islam

Persamaan laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah sama-sama memiliki kewajiban beribadah kepada Allah dan memperoleh pahala. Adapun perbedaannya adalah dalam hal kodrat, syariat (penetapan hukum waris, kedudukan laki-laki, nilai dalam persaksian). Namun, keduanya saling melengkapi dan bersinergi, bukan saling berkompetisi siapa yang paling hebat.

Fitrah Laki-laki dan Perempuan

Laki-laki dan perempuan memiliki fitrah yang berbeda. Laki-laki memiliki sifat yang lebih tegas dan keras karena fitrahnya sebagai pemimpin dan penjaga keluarga dari gangguan. Sedangkan perempuan memiliki sifat yang didominasi oleh perasaan karena fitrahnya dalam merawat mendidik anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Efek Gender dengan Perkembangan Anak

Fitrah seksualitas ini harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan di kemudian hari. Agar tidak terjadi penyimpangan, peran orang tua, ayah dan ibu sangat diperlukan. Sosok ayah dan ibu harus hadir dalam setiap perkembangan anak. Sejak lahir hingga akil baligh yaitu 0-15 tahun. Sosok ayah dan ibu ini harus hadir sesuai dengan porsinya, tidak lebih atau tidak kurang agar maskulinitas dan feminitas tumbuh sesuai porsinya. Idealnya, laki-laki memiliki sifat maskulinitas 70% dan feminisme 30%, sebaliknya dengan perempuan. Peran keluarga dalam pendidikan fitrah seksualitas ini sangat penting. Jangan sampai anak mendapatkan informasi dari luar yang kurang tepat.




Kamis, 25 Juli 2019

Aku Mau Tau Semuanyaaa

Sudah 2 tahun lebih umur Qiy. Rasa keingintahuannya semakin meningkat. Apapun ditanyakannya. Apa, siapa, dimana, lagi apa, kenapa. Kadang bikin aku dan suami mikir untuk menjawabnya.

Tapi hari ini ada yang bikin aku merasa "wow" dengan pertanyaannya Qiy.

Pertama, dia tanya, "Apa itu udara?". Jeng..jeng..anak 2 tahun tanya tentang udara yang dulu ibuknya baru belajar tentang udara kelas 6 SD. Bisa saja aku jawab ngasal atau aku jawab nanti kalo sekolah juga belajar. Tapi aku sama suami sepakat untuk selalu menjawab pertanyaan Qiy sebaik-baiknya. Karena apa? Anak itu bukan sekedar tanya. Tapi itu mengasah rasa keingintahuannya.  Ia merekam apa yang akan kita katakan. Nah, semisal kita menjawab ngasal maka yang tertanam dalam pikirannya itu ya jawaban ngasal itu tadi. Oya..anak yang sering bertanya itu juga melatih kecerdasannya dan jiwa kreatifnya.  Kalau tanya kayak kereta api gimana? Ga putus-putus gitu maksudnya. Kita balik tanya ke dia. Ini saran dari teman kuliah di Bunda Sayang dan ini beneran berhasil di Qiy. Kadang dia memang pengen ditanya balik. Hehehe..

Kembali ke pertanyaan 'apa itu udara'. Setelah Qiy melontarkan pertanyaan itu aku terdiam sejenak, mencoba mengingat ingay pelajaran kelas 6 SD dulu tentang sifat udara. Ga banyak yang ingat dan sulit juga menjelaskan sains ke anak 2 tahun..haha.. Tapi inilah ujiannya. Jadi, aku bilang, "Udara itu yang kita hirup kalau bernafas (sambil memperagakan menghirup dan menghembuskan nafas), udara itu yang mengisi balon (mengajak Qiy berimajinasi dengan benda yang ia sukai), udara itu bisa bergerak, kalo bergerak namanya angin, kayak ini lho (sambil kipas2 di depan Qiy), kayak ini juga (tiup tangan Qiy). Ada rasanya kan".  Habis itu Qiy diam..haha..semoga jawabanku tidak menyesatkan.

Pertanyaan kedua terjadi ketika ia mendengarkan sebuah kisah di Hafidzah doll. "Ibu, Ta'ala tu apa?". Walah jan nduuuk..umurku 28 taun yo rangerti artine. Astaghfirullah.. tapi Qiy tanya terus dan cuma bisa jawab, "Itu Allah Subhanahu wa Ta'ala, nama Allah". Setelah google baru tau kalau artinya, "Allah Mahasuci Dia dan Mahatinggi".

Dua pertanyaan hari ini buat aku mikir, wah..anakku kritis banget ya.. Aku gak boleh sampai meredam jiwa kritisnya. Justru harus aku pupuk dan pelihara. PR juga buat aku supaya bisa menyampaikan suatu hal secara simpel ke Qiy. PR juga untuk belajar lebih biar bisa membersamai Qiy.

Itulah kenapa ibu itu harus pintar. Kenapa juga dikatakan ibu itu madrasah pertama anaknya. Ternyata ya ginii.. semoga ibu tetap semangat belajar untuk mendampingi Qiy yaaa...

Rabu, 13 Maret 2019

3 Days Potty Training-nya Qiyya

Salah satu tahapan perkembangan anak yang bikin saya dag dig dug adalah toilet training. Pengen cepet terlewati tapi takut mau mulai. Saya terlanjur nyaman dengan popok. Tapiiii..saya khawatir dengan resiko ISK karena ada urine menempel dipopok juga karena boros maaaaaak. Sebulan habis 200-300ribu. Lumayan kan kalo dialihkan ke skin care. Haha. Dua alasan terakhir ini yg bikin saya pengen cepet2 lepas dari popok.

Persiapan yang saya lakukan adalah pasang sprei tahan air lalu didobel sprei biasa. Bisa saja hanya pakai sprei tahan air  tapi saya dan suami kurang nyaman. Sprei tahan air ini penting bagi saya karena saya ga suka kasur yang kena ompol males dengan bau pesingnya dan juga repotnya membersihkan najisnya. Lalu keluarkan perlak bayinya Qiyya, untuk alas saat tidur. Jangan lupa kain bekas bedong buat alas perlak dan bisa juga untuk lap ompol agar tidak kemana-kemana. Siapkan pel jangan lupa. Oya,,mental ibu dan ayahnya juga harus setrong, siapkan cemilan yg banyak..wkwkwk.

Rencana awal pengen lepas popok di usia 18 bulan. Tapi bulan2 itu kami banyak bolak-balik mudik. Jadi daripada sering ter-pending mending nanti aja sekalian. Akhir bulan Desember 2018 agak selo, jadi diniatkan gak kemana2 sampai lebaran untuk TT (toilet training). Baru sehari TT, kami mudik dadakan karena ada urusan. Tunda lagi deh. Kira-kira 2 bulan setelah itu baru mulai lagi. Ngumpulin niatnya yg lama. Hehe. Baru sehari eh..besoknya Qodarullah Qiyya sakit. Tunda lagi deh seminggu. Setelah sembuh lanjut TT lagi. Alhamdulillah 3 hari selesai. Bahkan hari ketiga selama siang hari tidak ngompol sama sekali. Sebuah prestasi bagi kami. Iyaa..kami rempong bertiga. Rempong tapi less drama. Ga seperti yang kami bayangkan tentang TT.

Jadi, saya pakai metode 3 days potty traininh. Bahasa Indonesianya sih "kebut 3 hari kelar". Saya mulai TT 2 kurleb minggu yang lalu dan sampai sekarang masih merasa ini sebuah metode yg ajaib. Haha.. Pertama kali tau ada metode ini dari senior SMA. Beliau share metode TT anaknya yg berhasil 3 hari pake metode ini. Menggiurkan kaaaan.. Bayangkan aja 3 hari kelar TT. Awalnya ragu juga. Masa iya sih 3 hari. Tapi, setelah baca2 teorinya, make sense sih. Jadi, coba aja buat Qiyya.

Sependek pemahaman saya tentang 3 days potty training ini adalah bagaimana membuat anak ngeh kalo dia pis/pup, merasa gak nyaman kalo dia pis/pup sembarang tempat, dan akhirnya pis/pup di toilet. Pada hari pertama, lepas popok anak, jangan pakaikan celana biar dia ngeh udah ga pakai popo. Kalau Qiyya tetap saya pakaikan celana dalam, kasian kalo kedinginan..wkwk. Lalu beri anak minum sesering mungkin atau jajanan tinggi natrium agar ia sering pipis. Tiap pipis tunjukkan kalo dia pipis dan harus pipis di toilet. Tunjukkan muka kecewa, bukan marah ya. Begini terus sampai hari ketiga. Beri apresiasi kalau dia berhasil pis/pup di toilet. Oiya, sebelum memulai TT pahami kesiapan anak. Mengajarkan sesuatu pada  anak ketika dia sudah siap akan lebih mudah dan cepat daripada buru-buru mengajarkan anak tapi dia belum siap.

Akhir bulan Desember 2018, Qiyya sudah mulai merasa tidak nyaman dengan popok. Dia sudah mengerti apa itu pipis apa itu pup dan saya beberapa kali menemukan popoknya kering selama lebih dari 2 jam. Bahkan pernah semalaman kering. Nah, tanda2 kesiapan itu yang menjadikan saya mantap untuk TT. Kesiapan anak untuk TT ini beda-beda ya maaak. Ada yg lebih cepat dan ada yg lebih lambat. It's okay..

Sebelum dan selama TT saya selalu sounding Qiyya. Selalu saya katakan bahwa dia sudah besar, gak usah pakai popok, pakai celana dalam aja biar nyaman (saya beli celana dalam yg lucu bareng Qiyya), kalau pipis di popok nanti popoknya bau dan kotor. Saya tunjukkan tiap lepas popok bahwa popoknya kotor dan bau.

Hari pertama Qiyya lepas popok ada kejadian lucu. Saya dan suami takut kalo dia ngompol. Yes, yang dibayangkan ketika lepas poppk adalah ompol dimana-mana, bau pesing menguasai ruangan, dan cucian yang numpuk. Jadi, sedikit2 kami tawarkan Qiyya untuk pipis. Hasilnya Qiyya agak takut..wkwk. 4 jam gak pipis. Saya ga tau ditahan atau memang belum kebelet. Suatu kali dia pipis. Dia merasakan sesuatu lalu bilang, "tumpah..tumpah". Lalu menangis, takut, dan memeluk saya setelah saya bilang itu pipis. Wkwkw.. Setelah itu tidak dilanjutkan lagi karena harus kejar pesawat ke bandara. Popokan maneh deh...

Akhir Februari kemarin mulai TT lagi. Balik lagi ke hari pertama. Ngompol pertama dia takut. Saya mencoba sok cool padahal pengen teriak, "Aduuuuuuh...ngepel maneh". Ditahan tahan maaaaak, biar anaknya gak trauma. Kan gak lucu kalo trauma pipis. Hari itu ngompol beberapa kali, malamnya Qiyya agak anget lalu saya pakaikan popok. Besoknya demam bapil. Huhuuu.. tunda lagii, popokan maneh.

Seminggu kemudian Qiyya sembuh. Langsung saya sounding untuk mulai TT lagi. Paginya lepas popok. Hari pertama (lagii) ini lumayan, dia sudah ngeh kalo pipis walaupun telat bilang. Ada yang dia bilang dan sukses pipis di toilet. Saya bahagia. Hahaa..alhamdulillah. Lanjut hari kedua lalu ketiga. Hari keempat ngompol di pagi hari aja, setelah itu ga ngompol sama sekali sampai sekarang selama siang hari. Alhamdulillah.

Oya..saya sarankan buat jurnal TT. Gunanya supaya kita tahu kapan saja waktu anak pipis, jadi bisa dikira2 kapan akan pipis trus ditawarkan pipis di kamar mandi. Soalnya jenuh juga kan kalo tiap jam nawari ke kamar mandi. Hehe. Isinya bebas, kalo saya seperti ini:

JURNAL TOILET TRAINING QIY

Day 1
09.00 lepas popok
13.00 tidur ngompol
16.00 pipis di kamar mandi ✅
17.00 pipis saat mandi ✅
22.00 tidur ngompol
03.00 tidur ngompol

Dari 6 kali pipis,  2 berhasil pipis di kamar mandi, kecuali saat tidur. Berhasil 30%

Day 2
08.00 ngompol
10.00 ngompol, bilang telat
12.00 pipis di kamar mandi ✅
13.00 tidur ngompol
13.30 pipis di kamar mandi ✅
14.30 ngompol, telat bilang
15.10 pipis di kamar mandi ✅
17.30 ngompol, panik nangis bangun tidur
18.00 pake popok

Lumayan..udah hampir 40% berhasil saat bangun.

Day 3
07.30 lepas popok, pipis di kamar mandi ✅
10.30 pipis di kamar mandi✅
12.45 pipis di kamar mandi✅
14.50 pipis di kamar mandi ✅
17.00 pipis di kamar mandi✅
18.30 pipis di kamar mandi ✅
19.30 pipis di kamar mandi ✅
19.30 pake popok

Untuk malamnya, saya baru mulai lagi 2 hari ini. Selama pakai popok di malam hari, saya tetap tawarkan Qiyya untuk ke toilet kalau terbangun.Tapi anaknya ga mau. Paginya popoknya masih basah, meskipun sebelum tidur sudah pipis. Jadi saya berani lepas popok  di malam hari ketika saat tidur siang dia sudah tidak ngompol. Sekarang, kalau malam saya batasi minumnya dan saya taqarkan untuk pipis dulu sebelum tidur. Alhamdulillah 2 malam ini popoknya bersih. Semoga seterusnya juga. Aamiin..

Misi selanjutnya adalah pis/pup di toilet umum karena Qiyya belum nyaman pis/pup di toilet asing. Bismillah..

Poin penting dari TT adalah
1. Lakukan ketika anak siap
2. Konsisten, jangan tergoda untuk pakaikan popok lagi
3. Sounding anak (ngaruh banget bagi saya)
4. Apresiasi jangan lupa yak mak..anak tuh seneng kalo dipuji..

Kamis, 25 Oktober 2018

ALIRAN RASA GAME LEVEL 2

Sepuluh hari mengajarkan kemandirian pada Qiyya mengingatkan saya akan sesuatu yaitu masa-masa di saat saya sekolah. Saat itu hampir setiap malam ibu berkata, "Seragame disiapke dewe, buku-bukune barang, ojo nganthi lali".  Sekarang, saya baru paham semuanya. Saat itu beliau mengajarkan kemandirian pada saya, mengajarkan saya agar tidak bergantung pada orang lain. Pernah suatu ketika  buku saya tertinggal di rumah. Ketika saya menyadarinya, ibu sudah berada di kantor dan tidak ada yang dimintai tolong untuk mengambilkan buku. Yak! Dimarahi guru? Itulah konsekuensi yang harus saya hadapi.

Melalui game level 2 kemarin, saya mengajarkan kemandirian pada Qiyya. Ada 3 hal yang saya ajarkan yaitu menggosok gigi terutama di malam hari, mampu mengutarakan keinginannya dengan baik, dan membereskan mainan. Alhamdulillah sudah ada kemajuan. Qiyya mau menggosok dan digosok giginya, meskipun harus dengan seribu rayuan. Dia pun mampu mengutarakan apa yang ia mau dengan baik, tanpa teriakan, tangisan dan tanpa marah-marah. Kami membuat rules bahwa saya tidak akan menuruti permintaannya jika tidak dikatakan dengan baik. Nah, bagian membereskan mainan sendiri ini masih PR bagi saya. Saya belum berhasil menumbuhkan rasa tanggung jawab akan mainannya sendiri.

Banyak yang saya pelajari dari game level 2 ini. Salah satunya adalah mengajarkan kemandirian pada anak dibutuhkan pendidik (dalam hal ini bisa ibunya) yang konsisten untuk mengajarkan kemandirian. Mengajarkan kemandirian pada anak tidak bisa instan. Butuh proses yang tidak sebentar. Untuk itu selain konsisten juga diperlukan kesabaran. Saya pun belajar bersabar dan konsisten dari game level 2 ini. Prinsip saya adalah, "Ajarkan kemandirian pada Qiyya sekarang, atau akan lebih sulit jika mengajarkannya ketika dia sudah dewasa".

Saya melihat, Qiyya yang bisa menggosok giginya sendiri atau Qiyya yang bisa membuang sampah sendiri menjadi lebih percaya diri. Ia bangga melakukan hal-hal tersebut sendiri. Itulah sebagian kecil manfaat kemandirian pada anak. Untuk jangka panjangnya tentunya adalah mempersiapkan Qiyya untuk tidak bergantung pada saya karena tidak selamanya saya bisa menemani Qiyya.

Rabu, 10 Oktober 2018

Melatih Kemandirian Hari ke 7

Kemandirian pada anak tidak muncul tiba-tiba. Ada proses yang harus dilalui si anak. Peran orangtua disini adalah memberikan stimulus dan terus memberikan dukungan.

Berikut percakapan saya (S) dan Qiyya (Q) pada hari ke 7 Qiyya belajar gosok gigi

S: "Gosok gigi yuuk"
Q: "Emoh, mau mimik cucu"
S: (langsung sodorin sikat ke Qiyya)
Q: (ambil sikat lalu gosok gigi)

Begitulah, semakin hari saya semakin mengerti bagaimana membujuk Qiyya untuk gosok gigi.

Kali ini langsung digiring ke kamar mandi.  Saya coba gosok gigi pakai sedikit pasta gigi. Alhamdulillah..meski ada yang tertelan sedikit..huhuuu.. Yeeay..target hari ini berhasil.. Besok coba gosok giginya 2 kali sehari yaa..pagi dan malam.. bismillah..

Selasa, 09 Oktober 2018

Melatih Kemandirian Hari ke 6

Sore tadi jalan-jalan sama Qiyya dan tantenya ke kota. Ibuk perlu membeli sesuatu. Jam 7 malam baru sampai rumah. Qiyya sudah tidur sejak di mobil tapi bangun lagi ketika sudah sampai rumah. Hampiiiir aja ga gosok gigi malam..hehe..

Malam ini butuh rayuan agak kenceng untuk gosok gigi karena Qiyya udah agak ngantuk. Alhamdulillah masih mau sikat gigi dan disikat giginya.

Malam ini agendanya sikat gigi pakai pasta gigi plus kumur2. Tapi berhubung karena sudah terlalu ngantuk  jadi gosok giginya kilat. Alhamdulillah anaknya masih mau kumur2. Kumur2nya pun belum sempurna, masih ada air yg tertelan jadi pakai air matang.

Alhamdulillah,  selalu bersyukur atas progres yang dibuat Qiyya, sekecil apapun itu..